Gerak Sejarah ala Chef Marx*
Satriono Priyo Utomo**
Abstrak:
Karl
Marx memakai filsafat bertujuan untuk mengubah tatanan masyarakat yang tidak
adil. Tapi hal itu mendapatkan kendala, kendati kondisi masyarakat masih
terkungkung ke dalam kelas-kelas sosial. Ditambahnya ada sebuah sistem yang
menindas, di mana masih ada institusi milik privat atas alat-alat produksi.
Sehingga membuat kelas pekerja menjadi tergantung terhadap kelas pemilik modal.
Hal ini yang kemudian melahirkan ide soal alienasi (keterasingan). Sebabnya
pembebasan manusia akan terjadi jikalau kepemilikan pribadi atas alat produksi
dihapus. Kemudian keadaan seperti itu disebut Karl Marx sebagai sosialisme.
Karena hak milik tersebut terbentuk oleh perkembangan sejarah, yang berdasarkan
syarat-syarat objektif. Maka menghapusnya pun diperlukan syarat-syarat
objektif.
Kata-kata
kunci: Materialisme Historis, materialisme, historis,
sosialisme ilmiah, basis, suprastruktur, masyarakat, kelas, perkembangan
sejarah
PENGANTAR
Suatu
hal yang wajar, ketika orang ingin mendekatkan diri dengan ide-ide Karl Marx,
menemukan betapa sulitnya teks itu dibaca. Penyebabnya adalah karena Karl Marx
menjelaskan pada konsep-konsep tertentu dengan momen-momen berbeda serta
konteks yang berbeda pula. Sebagian untuk tujuan publikasi, lainnnya lagi
sebagai pegangan baginya (self-clarification).
Tentunya kesulitan yang dialami, kita tidak ingin memulainya dengan biografi,
yang menjelaskan soal siapa Karl Marx.
Menghadapi
kesulitan ini, kita dibantu oleh seorang sosiolog bernama Paul Paolucci. Dia
membagi ide-ide Karl Marx secara konseptual ke dalam empat hal mendasar yaitu,
materialisme sejarah, ekonomi politik, proyek komunis, dan metode dialektika.
Meskipun mempunyai momen yang berbeda, semuanya tidak bisa dipisahkan satu sama
lain. Beruntung bukan cuma Paolucci yang membantu kita mengenal ide-ide Karl
Marx dengan membaginya ke dalam hal-hal mendasar. Franz Magnis Suseno juga
melakukan hal yang sama.
Dosen
STF Driyakara ini membagi pemikiran Karl Marx menjadi dua yaitu, “Marx Muda”,
dan “Marx Tua”. Pemikiran Marx Muda
pra-1846 adalah humanis. Yaitu soal, bagaimana membebaskan manusia dari
penindasan sistem politik reaksioner, keterasingan manusia, dan posisi klasik
sosialisme. Sedangkan pemikiran Marx Tua pasca 1845 sudah memasuki tahap
ilmiah. Yang bicara soal revolusi sosial akan melahirkan bentuk masyarakat yang
lebih tinggi, dan menghapus hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan
mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas (komunisme). Garis pemisah pemikiran Marx ini tentu
bermuara pada pandangannya yang dikenal oleh para pemikir sosial yaitu,
materialisme sejarah.1 Yang dimulai dengan diktum Marx yaitu, “Para
filsuf hanya menafsirkan dunia dalam beragam cara, yang terpenting adalah
bagaimana mengubahnya.”
Hakikat
sesungguhnya kehidupan manusia tentu adalah ‘kerja’, bukan pikiran. Inilah
pendekatan yang digunakan oleh Marx dalam memakai istilah materialiasme. Lantas
apakah berpikir bukan bagian dari kerja? Diktum Karl Marx rupanya memukul mundur
para ideolog atau filsuf yang hidup dengan duduk di balik meja kemudian
menghasilkan pikiran-pikiran. Kondisi tidak adil seperti ini rupanya bentukan
dari gerak sejarah masyarakat. Yang kemudian menjadikan pemikir sebagai kelas
berbeda dengan para pekerja. Yang mengandalkan tenaga untuk bertahan hidup.
Soal
gerak sejarah masyarakat. Tentu, Marx adalah orang kesekian yang menafsirkan
sejarah dari berbagai pendekatan. F.G.W. Hegel salah satunya yang coba memberi
tafsir atas sejarah sebelum Marx. Dia menyatakan bahwa penggerak dari seluruh
kejadian adalah keberlakuan ketentuan Tuhan. Ragam serta corak perkembangan
segala kemajuan manusia adalah melaksanakan kehendak Tuhan.2
Artinya,
Hegel melihat manusia secara indvidual hidup atas dasar pikiran yang dihasilkannya.
Dan pikiran itu berasal dari Tuhan.
Kemudian
tafsiran atas sejarah itu berkembang, menjadi sebuah tafsiran politis. Ternyata
penggerak sejarah adalah kaisar-kaisar, raja, dan para pembuat undang-undang.
Yang kemudian menghasilkan gagasan bahwa sejarah adalah milik para pembesar.
Sebab manusia memandang dirinya sebagai wakil Tuhan, berlagak seperti dewa, dan
bertindak seperti nabi.
Lantas
Marx terlahir untuk menantang gagasan itu. Marx dengan materialisme sejarahnya
memandang bahwa produksi dan distribusi barang-barang serta jasa merupakan
dasar untuk membantu manusia mengembangkan eksistensinya. Menurut Marx,
masyarakat dilihat sebagai sebuah struktur yakni, basis dan supra-struktur.
Sedangkan gerak sejarah dalm masyarakat diprovokasi oleh ekonomi. Basis gerakan
masyarakat adalah kondisi material. Produksi kebutuhan-kebutuhan material,
kelak akan menentukan bentuk dan perkembangan masyarakat.
SELAYANG
PANDANG MATERIALISME HISTORIS
A. Soal
Histo-Mat
Marx
menemukan gagasan materialisme historis selama bertahun-tahun. Secara ringkas
Anton Sangaji, kandidat doktor di York University, Kanada, menjelaskan
materialisme historis sebagai berikut:
Marx berusaha mengerti
aneka kenyataan masyarakat di dalam waktu dan ruang yang berbeda, terutama
dengan melihat struktur kelasnya, perubahan-perubahan yang terjadi, dan
faktor-faktor yang menggerakan perubahan itu. Marx, dalam kerangka ini, melihat
masyarakat berdasarkan cora-corak produksi (modes
of production), seperti corak primitif, feodal, dan kapitalis. Marx menganalisa
transisi dari satu corak produksi ke corak produksi lain, dengan menaruh
perhatian pada kontradiksi antara tenaga-tenaga produktif (productive forces) dan hubungan-hubungan produksi (relation of production).3
Pada
intinya Marx menggunakan istilah “materialisme” untuk mengantarkan kita pada
penjelasan bahwa kegiatan dasar manusia itu adalah kerja sosial. Penjelasan
Marx tersebut diwarnai oleh pengandaian Feuerbach bahwa kenyataan akhir adalah
obyek inderawi tetapi obyek inderawi ini harus dipahami sebagai kerja atau
produksi.
Kemudian
penjelasan “historis” didapat dari Hegel. Yang mengacu pada
pengandaian-pengandaian tentang sejarah sebagai proses dialektika. Tapi oleh
Marx, kata sejarah bukan lagi soal perwujudan dari roh, melainkan perjuangan
kelas-kelas untuk mewujudkan dirinya guna mencipta tatanan masyarakat sosialis.
Tesisnya
bukan bicara soal roh subyektif, dan anti-tesisnya bicara soal roh obyektif.
Melainkan menyangkut soal kontradiksi-kontradiksi dalam hidup masyarakat,
khususnya dalam kegiatan ekonomi produksi. Sintesa akan dicapai dalam bentuk
penghapusan keterasingan (alienasi) manusia atas alat produksi dan kerjanya.
Kemudian materialisme historis dapat dipahami sebagai pandangan atau pendekatan yang berusaha melihat
syarat-syarat obyektif guna menghapus hak milik pribadi atas alat-alat
produksi.
B. Antara
yang Abstrak dan Kongkret
Atas
dasar pernyataan tentang sosialisme tidak akan datang karena dia dinilai baik
ataupun karena kapitalisme adalah sesuatu yang dianggap jahat. Marx menganggap
sosialisme sebagai sosialisme ilmiah. Hal ini merujuk pada penelitian
syarat-syarat objektif perkembangan masyarakat. Yaitu, penghapusan hak milik
atas alat-alat produksi terpenuhi.
Dengan
hukum obyektif tersebut Marx dapat
menjelaskan mengapa sampai terjadi hak milik pribadi atas alat-alat produksi,
bagaimana struktur-struktur kekuasaan dalam masyarakat dan faktor-faktor apa
yang menentukan perubahan. Hukum dasar perkembangan masyarakat adalah produksi
kebutuhan-kebutuhan material manusia menentukan bentuk masyarakat dan
perkembangannya.4
Marx
yakin, yang menentukan perkembangan masyarakat bukanlah kesadaran, jadi bukan
soal apa yang dipikirkan masyarakat tentang dirinya sendiri, melainkan keadaan
masyarakat yang nyata. Yaitu proses hidup nyata manusialah gerak sejarah
manusia dijelaskan beserta selubung-selubung ideologis yang ikut serta
membentuknya.
Keadaan
tersebut menyangkut produksi atau pekerjaannya. Manusia ditentukan oleh
produksi mereka, baik apa yang diproduksikan maupun cara mereka berproduksi,
bukan apa yang dipikirkan. Jadi individu-individu tergantung pada syarat-syarat
material produksi mereka.
Jadi
keadaan material menurut Marx bukan soal ras, iklim, cara makan, dan
sebagainya, melainkan produksi kebutuhan material manusia. Cara manusia menghasilkan
apa yang dibutuhkannya untuk hidup, itulah yang disebut keadaan manusia.
Pandangan ini disebut materialis karena sejarah manusia ditentukan oleh
syarat-syarat produksi material. Syarat-syarat produksi material tersebut
menentukan adanya kelas-kelas sosial; keanggotaan dalam kelas sosial menentukan
kepentingan orang; dan kepentingan menentukan apa yang dicita-citakan, apa yang
dianggap baik dan buruk. (positivistik)5
C. Basis
Sosial dan Suprastruktur Sosial6
Istilah
basis sosial dan suprastruktur sosial ini digunakan oleh Ernest Mandel. Yang
melihat sesungguhnya, materialisme historis bukanlah determinisme ekonomi
tetapi determinisme sosio-ekonomi. Sebabnya, materialisme historis tidaklah
menegaskan bahwa produksi kehidupan material (faktor ekonomi) secara langsung
dan segera menentukan isi dan bentuk dari semua yang disebut dengan aktivitas
suprastruktur.6 Terlepas dari pernyataan Ernest Mandel yang rumit,
sebelumnya kita mesti mengidentifikasi antara apa yang disebut sebagai basis
dan suprastruktur.
Marx
membagi lingkungan kehidupan manusia dalam dua bagian besar, yakni basis dan
suprastruktur. Basis adalah bidang “produksi kehidupan material” sedangkan
suprastruktur adalah proses kehidupan sosial, politik, dan spiritual. Kehidupan
suprastruktur ditentukan dalam basis.7
Basis
terbagi
ke dalam dua faktor nyata: tenaga produktif dan hubungan produksi. Tenaga
produktif menyangkut kekuatan-kekuatan yang dipakai oleh masyarakat untuk
mengerjakan dan mengubah alam. Tenaga produktif meliputi: alat-alat kerja,
manusia dan kecakapannya, serta pengalaman dalam produksi (teknologi).
Sedangkan hubungan produksi mencangkup hubungan kerjasama atau pembagian kerja
antara manusia yang terlibat dalam proses produksi.
Semisal hubungan antara pemilik modal dan
pekerja. Hubungan produksi selalu berupa hubungan antar kelas, tepatnya
struktur kelas yang kongkret dan terperinci dalam sebuah masyarakat. Ciri khas
dalam melihat basis adanya pertentangan antara kelas tersebut. Dan struktur
kelas biasanya ditandai dengan kepemilikan alat produksi. Maka dari itu
hubungan produksi itu sama dengan hubungan hak milik. Marx berpendapat bahwa
yang menentukan hubungan produksi adalah tenaga produktif.
Suprastruktur
terdiri
dari dua unsur: tatanan institusional dan kesadaran kolektif. Tatanan
institusional merupakan segala macam lembaga yang mengatur kehidupan bersama
masyarakat di luar bidang produksi: organisasi pasar, sistem pendidikan, sistem
kesehatan masyarakat, dan terutama sistem hukum dan negara. Sedangkan yang
disebut sebagai kesadaran kolektif memuat soal kesadaran spiritual, sistem
kepercayaan, norma dan nilai. Hal ini berwujud agama, filsafat, moralitas
masyarakat, nilai budaya dan seni.
Kiranya pembagian ini kongkret. Dan Marx
berpendapat bahwa basislah yang menentukan suprastruktur. Penjelasannya seperti
ini, hubungan-hubungan produksi dalam basis selalu berwujud struktur kekuasaan,
tepatnya struktur kekuasaan ekonomi. Hubungan tersebut ditandai oleh kenyataan
bahwa bidang produksi dikuasai oleh para pemilik.
Dengan demikian, struktur-struktur
kekuasaan politis dan ideologis ditentukan oleh struktur hubungan hak milik,
jadi oleh struktur kekuasaan di bidang ekonomi. Karena bidang ekonomi pada
umumnya dikuasai oleh para pemilik, yang turut menguasai negara sehingga
nyata-nyata kekuasaan negara selalu mendukung kepentingan kuasa ekonomi
(pemodal). Begitu pula dengan kepercayaan-kepercayaan beserta sistem nilai
berfungsi sebagai instrumen penjaga legitimasi kekuasaan kelas pemilik modal.
Kesimpulannya, struktur kekuasaan politis dan spiritual dalam masyarakat adalah
representasi struktur kelas dalam bidang
ekonomi.
Menurut G.A. Cohen, yang menawarkan
intepretasi terpadu dalam memandang hubungan produksi serta hubungan antara basis
dan suprastruktur dirumuskan dalam penjelasan fungsional. Hubungan-hubungan
produksi dijelaskan melalui konsekuensi-konsekuensinya yang menguntungkan bagi
perkembangan kekuatan-kekuatan produksi. Begitu juga suprastruktur; hukum,
politik, intelektual dengan cara yang sama dijelaskan melalui konsekuensinya
yang menguntungkan bagi pemeliharaan hubungan-hubungan produksi.8
D. SPM
(Sejarah Perkembangan Masyarakat)
Penjelasan soal argumen Ernest mandel yang
mengungkapkan bahwa sesungguhnya analisa Marx:Materialisme Historis-nya
terletak pada determinisme sosio-ekonomi. Hal ini terlihat dalam tesisnya soal
“Sejarah Perkembangan Masyarakat”, yakni sejarah kemanusiaan yang berubah dari
satu bentuk sosial ekonomi ke bentuk yang lebih baru. (yang cenderung sangat
ekonomistis/masyarakat konsumsi)9 Singkatnya, gerak sejarah tersebut
terangkum ke dalam bentuk sebagai berikut.
Komunal
Primitif
Perbudakan
Feodal
Kapitalis
Sosialis/Komunis
E. Mekanisasi
Gerak Sejarah
Menurut
Marx, perubahan masyarakat merupakan akibat dari dinamika dalam basis dan bukan
pada suprastrktur. Dinamika itu sudah kita bahas ke dalam dinamika
kekuatan-kekuatan dan hubungan produksi dalam basis yang menentukan arah
perubahan dan perkembangan masyarakat. Jadi, kita tidak bisa mengharapkan
negara menjadi agent of change dalam
perubahan yang diramal oleh Karl Marx. Negara hanyalah isntrumen mendukung
kekuasaan para pemilik modal.
Sama
halnya dengan filsafat serta sistem nilai dan norma, tidak bisa diharapkan akan
membawa perubahan. Karena sekali lagi, itu semua menjadi bagian legitimasi
kekuasaan para pemilik modal. Jadi, bangunan atas baru berubah jika struktur
kepemilikan pribadi berubah juga. Lantas revolusi akan terjadi dan bersifat
politis tetapi selalu berakar dalam revolusi pada struktur hak milik yang ada.
Karl
Marx beranggapan bahwa setiap perubahan sosial mesti bersifat revolusioner.
Sejarah diyakini sebagai pergantian terus-menerus antara keadaan-keadaan stabil
dan tidak berubah. Yang berlangsung lama dalam keadaan-keadaan kegoncangan.
Syahdan, revolusi dapat terjadi dalam waktu singkat dan menghasilkan struktur-struktur
kekuasaan yang baru. Yang pada intinya akan sampai pada tesis Marx berikutnya
yaitu, perjuangan kelas adalah motor kemajuan sejarah. Dan kelas itu adalah kelas
tertindas (proletariat).
Tapi
yang perlu diingat, pertentangan kelas bukanlah faktor yang membuat perubahan.
Karena kelak, kelas berkuasa menggunakan kekuasaannya untuk mempertahankan
struktur sosial (hubungan-hubungan produksi). Menurut Marx, faktor yang
memastikan lambat laun perubahan revolusioner adalah tenaga-tenaga produktif.
Tenaga-tenaga merupakan faktor dinamis dalam masyarakat dan berdasarkan logika
internal proses produksi mesti berkembang terus.
Hal
ini dapat dimengerti karena para pemilik modal berusaha mencari keuntungan yang
lebih besar. Dengan meningkatkan efisiensi tenaga-tenaga produktif. Maka kaum
kapitalis akan terus-menerus memperluas, memperbaiki, dan merasionalisasikan
cara produksi, alat-alat kerja terus dibuat efisien dan keterampilan buruh
ditingkatkan.
Situasinya
makin lama makin tidak stabil. Akibatnya tenaga-tenaga produksi terus
berkembang menjadi canggih tetapi struktur ekonominya tidak berubah sama
sekali. Kalau semula struktur kekuasaan ekonomi dan pola hak milik mendukung
kemajuan perekonomian. Maka sekarang struktur-struktur kekuasaan kuno
menghambatnya. Kelak struktur kekuasaan dianggap irasional, yang pada akhirnya
tidak cocok lagi dengan dinamika perekonomian.9
KESIMPULAN
Pandangan
materialisme historis merupakan dasar klaim Marx bahwa sosialisme adalah
ilmiah. Karena hal ini menerangkan bahwa gerak sejarah manusia ditentukan
berdasar kondisi nyata, yaitu produksi atau sistem ekonomi. Jadi, prinsipnya
perubahan dalam bidang politik dan ideologi ditentukan oleh kekuatan ekonomi.
Tentu
gagasan Marx kekinian masih renyah. Dan menakutkan bagi mereka yang masih
mempunyai motif mengekspoitasi sesama manusia. Tapi yakinlah, biarpun Marx
beranggapan bahwa perubahan sosial mesti terjadi melalui jalan revolusi, dan
meniadakan negara ketika tercapainya masyarakat sosialis. Dianggap sesuatu yang
utopis. Karena tidak bisa ditempatkan di belahan bumi lain, di luar di mana
tempat Marx melahirkan gagasan ini, yaitu Eropa.
Yang
dapat diterima dari Karl Marx kemudian adalah kepentingan-kepentingan ekonomi
pada saat dan bidang tertentu (salah satunya pendidikan) dapat menentukan
kebijakan politis dan gaya berpikir orang. Patut waspada, karena di balik itu
sudah barang tentu ada kepentingan kelas penguasa. Yang terus ingin melanggengkan
situasi ketidakadilan.
Catatan
Akhir
*Makalah
dalam materi materialisme historis, mata kuliah Teori Sosial Budaya
**Mahasiswa
Jurusan Pendidikan Sejarah, UNJ
1
Franz
Magnis Suseno, Peta Pemikiran Karl Marx:
Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2005, 137.
2
Kristeva,
Nur Sayyid Santoso. Negara Revolusi
Marxis dan Proletariat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
3
Jurnal
IndoProgress. Merayakan Perdebatan.
Yogyakarta: Resistbook, 2012.
4
Jurnal
Driyarkara. Karl Marx dan Marxisme:
Sebuah Perkenalan. Jakarta, 2011.
5
Franz
Magnis Suseno, Peta Pemikiran Karl
Marx..., 137
6
Mandel,
Ernest. Tesis-Tesis Pokok Marxisme.Yogyakarta:
Resistbook, 2006.
7
Franz
Magnis Suseno, Peta Pemikiran Karl Marx...,142
8
Jon
Elster, Karl Marx: Marxisme-Analisis
Krisis. Jakarta: Prestasi Pustakakarya, 2000.
9
Jurnal
Driyarkara. Karl Marx dan Marxisme:
Sebuah Perkenalan. Jakarta, 2011.
DAFTAR PUSTAKA
Franz Magnis
Suseno, Peta Pemikiran Karl Marx: Dari
Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2005.
Kristeva, Nur Sayyid Santoso. Negara Revolusi Marxis dan Proletariat.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Jurnal
IndoProgress. Merayakan Perdebatan.
Yogyakarta: Resistbook, 2012.
Jurnal
Driyarkara. Karl Marx dan Marxisme:
Sebuah Perkenalan. Jakarta, 2011.
Mandel,
Ernest. Tesis-Tesis Pokok Marxisme.Yogyakarta:
Resistbook, 2006.
Jon
Elster, Karl Marx: Marxisme-Analisis
Krisis. Jakarta: Prestasi Pustakakarya, 2000.
.png)

0 komentar: