Gerak Sejarah ala Chef Marx*

13.34 0 Comments




Satriono Priyo Utomo**

Abstrak: Karl Marx memakai filsafat bertujuan untuk mengubah tatanan masyarakat yang tidak adil. Tapi hal itu mendapatkan kendala, kendati kondisi masyarakat masih terkungkung ke dalam kelas-kelas sosial. Ditambahnya ada sebuah sistem yang menindas, di mana masih ada institusi milik privat atas alat-alat produksi. Sehingga membuat kelas pekerja menjadi tergantung terhadap kelas pemilik modal. Hal ini yang kemudian melahirkan ide soal alienasi (keterasingan). Sebabnya pembebasan manusia akan terjadi jikalau kepemilikan pribadi atas alat produksi dihapus. Kemudian keadaan seperti itu disebut Karl Marx sebagai sosialisme. Karena hak milik tersebut terbentuk oleh perkembangan sejarah, yang berdasarkan syarat-syarat objektif. Maka menghapusnya pun diperlukan syarat-syarat objektif.

Kata-kata kunci: Materialisme Historis, materialisme, historis, sosialisme ilmiah, basis, suprastruktur, masyarakat, kelas, perkembangan sejarah  
PENGANTAR

Suatu hal yang wajar, ketika orang ingin mendekatkan diri dengan ide-ide Karl Marx, menemukan betapa sulitnya teks itu dibaca. Penyebabnya adalah karena Karl Marx menjelaskan pada konsep-konsep tertentu dengan momen-momen berbeda serta konteks yang berbeda pula. Sebagian untuk tujuan publikasi, lainnnya lagi sebagai pegangan baginya (self-clarification). Tentunya kesulitan yang dialami, kita tidak ingin memulainya dengan biografi, yang menjelaskan soal siapa Karl Marx.

Menghadapi kesulitan ini, kita dibantu oleh seorang sosiolog bernama Paul Paolucci. Dia membagi ide-ide Karl Marx secara konseptual ke dalam empat hal mendasar yaitu, materialisme sejarah, ekonomi politik, proyek komunis, dan metode dialektika. Meskipun mempunyai momen yang berbeda, semuanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Beruntung bukan cuma Paolucci yang membantu kita mengenal ide-ide Karl Marx dengan membaginya ke dalam hal-hal mendasar. Franz Magnis Suseno juga melakukan hal yang sama.

Dosen STF Driyakara ini membagi pemikiran Karl Marx menjadi dua yaitu, “Marx Muda”, dan “Marx Tua”.  Pemikiran Marx Muda pra-1846 adalah humanis. Yaitu soal, bagaimana membebaskan manusia dari penindasan sistem politik reaksioner, keterasingan manusia, dan posisi klasik sosialisme. Sedangkan pemikiran Marx Tua pasca 1845 sudah memasuki tahap ilmiah. Yang bicara soal revolusi sosial akan melahirkan bentuk masyarakat yang lebih tinggi, dan menghapus hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas (komunisme).  Garis pemisah pemikiran Marx ini tentu bermuara pada pandangannya yang dikenal oleh para pemikir sosial yaitu, materialisme sejarah.1 Yang dimulai dengan diktum Marx yaitu, “Para filsuf hanya menafsirkan dunia dalam beragam cara, yang terpenting adalah bagaimana mengubahnya.”
            Hakikat sesungguhnya kehidupan manusia tentu adalah ‘kerja’, bukan pikiran. Inilah pendekatan yang digunakan oleh Marx dalam memakai istilah materialiasme. Lantas apakah berpikir bukan bagian dari kerja? Diktum Karl Marx rupanya memukul mundur para ideolog atau filsuf yang hidup dengan duduk di balik meja kemudian menghasilkan pikiran-pikiran. Kondisi tidak adil seperti ini rupanya bentukan dari gerak sejarah masyarakat. Yang kemudian menjadikan pemikir sebagai kelas berbeda dengan para pekerja. Yang mengandalkan tenaga untuk bertahan hidup.
Soal gerak sejarah masyarakat. Tentu, Marx adalah orang kesekian yang menafsirkan sejarah dari berbagai pendekatan. F.G.W. Hegel salah satunya yang coba memberi tafsir atas sejarah sebelum Marx. Dia menyatakan bahwa penggerak dari seluruh kejadian adalah keberlakuan ketentuan Tuhan. Ragam serta corak perkembangan segala kemajuan manusia adalah melaksanakan kehendak Tuhan.2 Artinya, Hegel melihat manusia secara indvidual hidup atas dasar pikiran yang dihasilkannya. Dan pikiran itu berasal dari Tuhan.
Kemudian tafsiran atas sejarah itu berkembang, menjadi sebuah tafsiran politis. Ternyata penggerak sejarah adalah kaisar-kaisar, raja, dan para pembuat undang-undang. Yang kemudian menghasilkan gagasan bahwa sejarah adalah milik para pembesar. Sebab manusia memandang dirinya sebagai wakil Tuhan, berlagak seperti dewa, dan bertindak seperti nabi.
Lantas Marx terlahir untuk menantang gagasan itu. Marx dengan materialisme sejarahnya memandang bahwa produksi dan distribusi barang-barang serta jasa merupakan dasar untuk membantu manusia mengembangkan eksistensinya. Menurut Marx, masyarakat dilihat sebagai sebuah struktur yakni, basis dan supra-struktur. Sedangkan gerak sejarah dalm masyarakat diprovokasi oleh ekonomi. Basis gerakan masyarakat adalah kondisi material. Produksi kebutuhan-kebutuhan material, kelak akan menentukan bentuk dan perkembangan masyarakat.

SELAYANG PANDANG MATERIALISME HISTORIS
A. Soal Histo-Mat
Marx menemukan gagasan materialisme historis selama bertahun-tahun. Secara ringkas Anton Sangaji, kandidat doktor di York University, Kanada, menjelaskan materialisme historis sebagai berikut:

Marx berusaha mengerti aneka kenyataan masyarakat di dalam waktu dan ruang yang berbeda, terutama dengan melihat struktur kelasnya, perubahan-perubahan yang terjadi, dan faktor-faktor yang menggerakan perubahan itu. Marx, dalam kerangka ini, melihat masyarakat berdasarkan cora-corak produksi (modes of production), seperti corak primitif, feodal, dan kapitalis. Marx menganalisa transisi dari satu corak produksi ke corak produksi lain, dengan menaruh perhatian pada kontradiksi antara tenaga-tenaga produktif (productive forces) dan hubungan-hubungan produksi (relation of production).3
Pada intinya Marx menggunakan istilah “materialisme” untuk mengantarkan kita pada penjelasan bahwa kegiatan dasar manusia itu adalah kerja sosial. Penjelasan Marx tersebut diwarnai oleh pengandaian Feuerbach bahwa kenyataan akhir adalah obyek inderawi tetapi obyek inderawi ini harus dipahami sebagai kerja atau produksi.
Kemudian penjelasan “historis” didapat dari Hegel. Yang mengacu pada pengandaian-pengandaian tentang sejarah sebagai proses dialektika. Tapi oleh Marx, kata sejarah bukan lagi soal perwujudan dari roh, melainkan perjuangan kelas-kelas untuk mewujudkan dirinya guna mencipta tatanan masyarakat sosialis.
 Tesisnya bukan bicara soal roh subyektif, dan anti-tesisnya bicara soal roh obyektif. Melainkan menyangkut soal kontradiksi-kontradiksi dalam hidup masyarakat, khususnya dalam kegiatan ekonomi produksi. Sintesa akan dicapai dalam bentuk penghapusan keterasingan (alienasi) manusia atas alat produksi dan kerjanya. Kemudian materialisme historis dapat dipahami sebagai pandangan  atau pendekatan yang berusaha melihat syarat-syarat obyektif guna menghapus hak milik pribadi atas alat-alat produksi.

B. Antara yang Abstrak dan Kongkret

Atas dasar pernyataan tentang sosialisme tidak akan datang karena dia dinilai baik ataupun karena kapitalisme adalah sesuatu yang dianggap jahat. Marx menganggap sosialisme sebagai sosialisme ilmiah. Hal ini merujuk pada penelitian syarat-syarat objektif perkembangan masyarakat. Yaitu, penghapusan hak milik atas alat-alat produksi terpenuhi.

Dengan hukum  obyektif tersebut Marx dapat menjelaskan mengapa sampai terjadi hak milik pribadi atas alat-alat produksi, bagaimana struktur-struktur kekuasaan dalam masyarakat dan faktor-faktor apa yang menentukan perubahan. Hukum dasar perkembangan masyarakat adalah produksi kebutuhan-kebutuhan material manusia menentukan bentuk masyarakat dan perkembangannya.4
Marx yakin, yang menentukan perkembangan masyarakat bukanlah kesadaran, jadi bukan soal apa yang dipikirkan masyarakat tentang dirinya sendiri, melainkan keadaan masyarakat yang nyata. Yaitu proses hidup nyata manusialah gerak sejarah manusia dijelaskan beserta selubung-selubung ideologis yang ikut serta membentuknya.
Keadaan tersebut menyangkut produksi atau pekerjaannya. Manusia ditentukan oleh produksi mereka, baik apa yang diproduksikan maupun cara mereka berproduksi, bukan apa yang dipikirkan. Jadi individu-individu tergantung pada syarat-syarat material produksi mereka.
Jadi keadaan material menurut Marx bukan soal ras, iklim, cara makan, dan sebagainya, melainkan produksi kebutuhan material manusia. Cara manusia menghasilkan apa yang dibutuhkannya untuk hidup, itulah yang disebut keadaan manusia. Pandangan ini disebut materialis karena sejarah manusia ditentukan oleh syarat-syarat produksi material. Syarat-syarat produksi material tersebut menentukan adanya kelas-kelas sosial; keanggotaan dalam kelas sosial menentukan kepentingan orang; dan kepentingan menentukan apa yang dicita-citakan, apa yang dianggap baik dan buruk. (positivistik)5
  C. Basis Sosial dan Suprastruktur Sosial6
Istilah basis sosial dan suprastruktur sosial ini digunakan oleh Ernest Mandel. Yang melihat sesungguhnya, materialisme historis bukanlah determinisme ekonomi tetapi determinisme sosio-ekonomi. Sebabnya, materialisme historis tidaklah menegaskan bahwa produksi kehidupan material (faktor ekonomi) secara langsung dan segera menentukan isi dan bentuk dari semua yang disebut dengan aktivitas suprastruktur.6 Terlepas dari pernyataan Ernest Mandel yang rumit, sebelumnya kita mesti mengidentifikasi antara apa yang disebut sebagai basis dan suprastruktur.
Marx membagi lingkungan kehidupan manusia dalam dua bagian besar, yakni basis dan suprastruktur. Basis adalah bidang “produksi kehidupan material” sedangkan suprastruktur adalah proses kehidupan sosial, politik, dan spiritual. Kehidupan suprastruktur ditentukan dalam basis.7
     Basis terbagi ke dalam dua faktor nyata: tenaga produktif dan hubungan produksi. Tenaga produktif menyangkut kekuatan-kekuatan yang dipakai oleh masyarakat untuk mengerjakan dan mengubah alam. Tenaga produktif meliputi: alat-alat kerja, manusia dan kecakapannya, serta pengalaman dalam produksi (teknologi). Sedangkan hubungan produksi mencangkup hubungan kerjasama atau pembagian kerja antara manusia yang terlibat dalam proses produksi.
     Semisal hubungan antara pemilik modal dan pekerja. Hubungan produksi selalu berupa hubungan antar kelas, tepatnya struktur kelas yang kongkret dan terperinci dalam sebuah masyarakat. Ciri khas dalam melihat basis adanya pertentangan antara kelas tersebut. Dan struktur kelas biasanya ditandai dengan kepemilikan alat produksi. Maka dari itu hubungan produksi itu sama dengan hubungan hak milik. Marx berpendapat bahwa yang menentukan hubungan produksi adalah tenaga produktif.
     Suprastruktur terdiri dari dua unsur: tatanan institusional dan kesadaran kolektif. Tatanan institusional merupakan segala macam lembaga yang mengatur kehidupan bersama masyarakat di luar bidang produksi: organisasi pasar, sistem pendidikan, sistem kesehatan masyarakat, dan terutama sistem hukum dan negara. Sedangkan yang disebut sebagai kesadaran kolektif memuat soal kesadaran spiritual, sistem kepercayaan, norma dan nilai. Hal ini berwujud agama, filsafat, moralitas masyarakat, nilai budaya dan seni.
     Kiranya pembagian ini kongkret. Dan Marx berpendapat bahwa basislah yang menentukan suprastruktur. Penjelasannya seperti ini, hubungan-hubungan produksi dalam basis selalu berwujud struktur kekuasaan, tepatnya struktur kekuasaan ekonomi. Hubungan tersebut ditandai oleh kenyataan bahwa bidang produksi dikuasai oleh para pemilik.
     Dengan demikian, struktur-struktur kekuasaan politis dan ideologis ditentukan oleh struktur hubungan hak milik, jadi oleh struktur kekuasaan di bidang ekonomi. Karena bidang ekonomi pada umumnya dikuasai oleh para pemilik, yang turut menguasai negara sehingga nyata-nyata kekuasaan negara selalu mendukung kepentingan kuasa ekonomi (pemodal). Begitu pula dengan kepercayaan-kepercayaan beserta sistem nilai berfungsi sebagai instrumen penjaga legitimasi kekuasaan kelas pemilik modal. Kesimpulannya, struktur kekuasaan politis dan spiritual dalam masyarakat adalah representasi  struktur kelas dalam bidang ekonomi.
     Menurut G.A. Cohen, yang menawarkan intepretasi terpadu dalam memandang hubungan produksi serta hubungan antara basis dan suprastruktur dirumuskan dalam penjelasan fungsional. Hubungan-hubungan produksi dijelaskan melalui konsekuensi-konsekuensinya yang menguntungkan bagi perkembangan kekuatan-kekuatan produksi. Begitu juga suprastruktur; hukum, politik, intelektual dengan cara yang sama dijelaskan melalui konsekuensinya yang menguntungkan bagi pemeliharaan hubungan-hubungan produksi.8
D. SPM (Sejarah Perkembangan Masyarakat)
  Penjelasan soal argumen Ernest mandel yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya analisa Marx:Materialisme Historis-nya terletak pada determinisme sosio-ekonomi. Hal ini terlihat dalam tesisnya soal “Sejarah Perkembangan Masyarakat”, yakni sejarah kemanusiaan yang berubah dari satu bentuk sosial ekonomi ke bentuk yang lebih baru. (yang cenderung sangat ekonomistis/masyarakat konsumsi)9 Singkatnya, gerak sejarah tersebut terangkum ke dalam bentuk sebagai berikut.

Komunal Primitif

Perbudakan

Feodal

Kapitalis

Sosialis/Komunis
E. Mekanisasi Gerak Sejarah
Menurut Marx, perubahan masyarakat merupakan akibat dari dinamika dalam basis dan bukan pada suprastrktur. Dinamika itu sudah kita bahas ke dalam dinamika kekuatan-kekuatan dan hubungan produksi dalam basis yang menentukan arah perubahan dan perkembangan masyarakat. Jadi, kita tidak bisa mengharapkan negara menjadi agent of change dalam perubahan yang diramal oleh Karl Marx. Negara hanyalah isntrumen mendukung kekuasaan para pemilik modal.
Sama halnya dengan filsafat serta sistem nilai dan norma, tidak bisa diharapkan akan membawa perubahan. Karena sekali lagi, itu semua menjadi bagian legitimasi kekuasaan para pemilik modal. Jadi, bangunan atas baru berubah jika struktur kepemilikan pribadi berubah juga. Lantas revolusi akan terjadi dan bersifat politis tetapi selalu berakar dalam revolusi pada struktur hak milik yang ada.
Karl Marx beranggapan bahwa setiap perubahan sosial mesti bersifat revolusioner. Sejarah diyakini sebagai pergantian terus-menerus antara keadaan-keadaan stabil dan tidak berubah. Yang berlangsung lama dalam keadaan-keadaan kegoncangan. Syahdan, revolusi dapat terjadi dalam waktu singkat dan menghasilkan struktur-struktur kekuasaan yang baru. Yang pada intinya akan sampai pada tesis Marx berikutnya yaitu, perjuangan kelas adalah motor kemajuan sejarah. Dan kelas itu adalah kelas tertindas (proletariat).
Tapi yang perlu diingat, pertentangan kelas bukanlah faktor yang membuat perubahan. Karena kelak, kelas berkuasa menggunakan kekuasaannya untuk mempertahankan struktur sosial (hubungan-hubungan produksi). Menurut Marx, faktor yang memastikan lambat laun perubahan revolusioner adalah tenaga-tenaga produktif. Tenaga-tenaga merupakan faktor dinamis dalam masyarakat dan berdasarkan logika internal proses produksi mesti berkembang terus.
Hal ini dapat dimengerti karena para pemilik modal berusaha mencari keuntungan yang lebih besar. Dengan meningkatkan efisiensi tenaga-tenaga produktif. Maka kaum kapitalis akan terus-menerus memperluas, memperbaiki, dan merasionalisasikan cara produksi, alat-alat kerja terus dibuat efisien dan keterampilan buruh ditingkatkan.
Situasinya makin lama makin tidak stabil. Akibatnya tenaga-tenaga produksi terus berkembang menjadi canggih tetapi struktur ekonominya tidak berubah sama sekali. Kalau semula struktur kekuasaan ekonomi dan pola hak milik mendukung kemajuan perekonomian. Maka sekarang struktur-struktur kekuasaan kuno menghambatnya. Kelak struktur kekuasaan dianggap irasional, yang pada akhirnya tidak cocok lagi dengan dinamika perekonomian.9

KESIMPULAN
Pandangan materialisme historis merupakan dasar klaim Marx bahwa sosialisme adalah ilmiah. Karena hal ini menerangkan bahwa gerak sejarah manusia ditentukan berdasar kondisi nyata, yaitu produksi atau sistem ekonomi. Jadi, prinsipnya perubahan dalam bidang politik dan ideologi ditentukan oleh kekuatan ekonomi.
Tentu gagasan Marx kekinian masih renyah. Dan menakutkan bagi mereka yang masih mempunyai motif mengekspoitasi sesama manusia. Tapi yakinlah, biarpun Marx beranggapan bahwa perubahan sosial mesti terjadi melalui jalan revolusi, dan meniadakan negara ketika tercapainya masyarakat sosialis. Dianggap sesuatu yang utopis. Karena tidak bisa ditempatkan di belahan bumi lain, di luar di mana tempat Marx melahirkan gagasan ini, yaitu Eropa.
Yang dapat diterima dari Karl Marx kemudian adalah kepentingan-kepentingan ekonomi pada saat dan bidang tertentu (salah satunya pendidikan) dapat menentukan kebijakan politis dan gaya berpikir orang. Patut waspada, karena di balik itu sudah barang tentu ada kepentingan kelas penguasa. Yang terus ingin melanggengkan situasi ketidakadilan.

Catatan Akhir
*Makalah dalam materi materialisme historis, mata kuliah Teori Sosial Budaya
**Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, UNJ
1 Franz Magnis Suseno, Peta Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005, 137.
2 Kristeva, Nur Sayyid Santoso. Negara Revolusi Marxis dan Proletariat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
3 Jurnal IndoProgress. Merayakan Perdebatan. Yogyakarta: Resistbook, 2012.
4 Jurnal Driyarkara. Karl Marx dan Marxisme: Sebuah Perkenalan. Jakarta, 2011.
5 Franz Magnis Suseno, Peta Pemikiran Karl Marx..., 137
6 Mandel, Ernest. Tesis-Tesis Pokok Marxisme.Yogyakarta: Resistbook, 2006.
7 Franz Magnis Suseno, Peta Pemikiran Karl Marx...,142
8 Jon Elster, Karl Marx: Marxisme-Analisis Krisis. Jakarta: Prestasi Pustakakarya, 2000.
9 Jurnal Driyarkara. Karl Marx dan Marxisme: Sebuah Perkenalan. Jakarta, 2011.

DAFTAR PUSTAKA
            Franz Magnis Suseno, Peta Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.
  Kristeva, Nur Sayyid Santoso. Negara Revolusi Marxis dan Proletariat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
             Jurnal IndoProgress. Merayakan Perdebatan. Yogyakarta: Resistbook, 2012.
             Jurnal Driyarkara. Karl Marx dan Marxisme: Sebuah Perkenalan. Jakarta, 2011.
             Mandel, Ernest. Tesis-Tesis Pokok Marxisme.Yogyakarta: Resistbook, 2006.
            Jon Elster, Karl Marx: Marxisme-Analisis Krisis. Jakarta: Prestasi Pustakakarya, 2000.



Unknown

Halo Pembaca, bila tulisan ini berkenan bagi Anda silahkan disebar dan berikan komentar ya, terimakasih

0 komentar: