Globalisasi dan Problematika Imigrasi di Eropa1

21.17 0 Comments




Satriono Priyo Utomo2

Abstrak: Salah satu tujuan dari globalisasi ialah mempertemukan seluruh umat manusia di dalam sebuah wadah kegiatan ekonomi bersama, yaitu produksi, distribusi dan konsumsi. Hal ini merupakan konsekuensi dari derasnya roda industri, akibat revolusi industri di eropa. Dengan kapitalisme sebagai perangkatnya. Melalui deregulasi, privatisasi, serta ekspolitasi. Arus industri ini membutuhkan tenaga kerja murah sebagai konsekuensinya. Dan praktik imigrasi niscaya representasi atas kebutuhan kapitalisme eropa. Selain sebagai wujud eksploitasi manusia atas manusia, imigrasi tidak ubahnya menjadi instrumen perluasan pasar atas produk kapitalisme eropa. Dan problem dari itu bukan sekadar pertentangan kelas sosial, lebih kompleks. Yaitu konflik ras, agama, dan suku.

Kata Kunci: Imigrasi, globalisasi, kapitalisme, industri, kelas, sosial, penduduk, wilayah, konflik.


Pendahuluan

            Dalam sejarah perkembangan masyarakat yang digambarkan oleh Karl Marx. Perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat yang lainnya bukanlah hal baru. Terkadang perpindahan tersebut diwarnai oleh penaklukan-penaklukan antar komunitas. Yang lebih terlihat dari perpindahan tersebut, utamanya ialah berubahnya cara produksi atau bertahan hidup suatu komunitas manusia.

            Cara produksi nomaden, berburu, bertani, dan berindustri. Merupakan hasil dari kebiasaan manusia yang telah berlangsung lama yaitu berpindah tempat. Namun di era kekinian, fenomena perpindahan tempat (migrasi) sebetulnya tidak jauh berbeda. Tetapi, menemukan bentuk lain, baik dari segi motif, skala, jarak maupun akibat yang ditimbulkannya. Tidak seperti di masa lalu dimana migrasi kebanyakan terjadi di dalam satu wilayah komunitas kecil.

Migrasi sekarang ini sudah melintasi batas teritorial negara, bahkan benua. Globalisasi meniscayakan adanya hubungan yang sangat integral antara satu masyarakat dengan yang lain yang diakibatkan oleh semakin kaburnya hambatan-hambatan jarak dan informasi.3 Tentu hal ini merupakan efek dari industrialisasi di eropa, akibat semangat revolusi industri. Yang mempunyai dampak berubahnya sistem ekonomi, serta politik di eropa yang kemudian merambat pada dunia melalui kegiatan imperialisme dan kolonialismenya.

Efek politiknya sendiri di eropa ialah adanya Revolusi Perancis. Dimana penyebabnya ialah merebaknya berbagai macam gagasan-gagasan besar. Seperti liberalisme, demokrasi, sampai sosialisme. Tentu hal ini menjadi catatan besar bagi eropa. Sebab, konflik sosial tidak dapat dihindari oleh bangsa Eropa. Sekalipun mereka lebih banyak diuntungkannya atas pesatnya industrialisasi. Yang kemudian menjadikan bangsa-bangsa lain macam Asia dan Afrika. Sebagai sapi perah yang melulu ditindas dan dihisap olehnya.

Kekinian, Eropa mesti menerima dampak industrialisasi yang kemudian menghasilkan gagasan globalisasi. Yaitu, Eropa menjadi tempat tujuan imigrasi bagi bangsa-bangsa Asia maupun Afrika, baik muslim maupun bukan. Yang kalau kita ketahui, justru masyarakt Eropa mengisi wilayah-wilayah yang hari ini didominasi olehnya yaitu benua Amerika Utara dan Australia. Tapi nampaknya itu semua sudah berakhir sejak imperialisme dan kolonialisme secara kasat mata, sudah tidak ada di belahan bumi Asia dan Afrika. Yaitu ketika berakhirnya Perang Dunia II. Banyak orang-orang Afrika dan Asia mencari penghidupan di Eropa. Yang sebagian besar kedatangan mereka tidak lebih masih mempunyai ikatan kolonialisme.

Bahkan mereka yang telah menetap di kota-kota Eropa tetap mempertahankan mentalitas desa dan dilihat sebagai keterbelakangan oleh elit bisnis dan budaya di negara mereka tinggal. Orang-orang Maroko yang menetap di Belanda dan Belgia, misalnya, sebagian besar adalah orang Berber dari pegunungan Rif, bukan elite budaya Arab dari Casablanca, Rabat, atau Fez. Imigran ini datang ke Eropa untuk membangun rel kereta api, bekerja di tambang batu bara, pembersihan jalan, dan pekerjaan-pekerjaan yang orang Eropa tidak ingin lakukan. Kedua hal itu merupakan faktor yang “mendorong” dan “menarik” pengaruh imigrasi. Faktor yang “mendorong” adalah yang mendorong imigran untuk meninggalkan tanah airnya sedangkan faktor yang “menarik” adalah mereka yang menarik mereka untuk pergi ke negara yang berbeda. Eropa dan negara-negara liberal Barat lainnya mempunyai daya tarik yang kuat pada imigran. Namun, menghentikan imigrasi tidak mudah, itupun jika mungkin, karena hukum di negara-negara liberal Eropa yang menarik imigran itu sekaligus mencegah negara untuk menghentikan mereka datang atau, lalu kemudian, mendeportasi mereka.4

Untuk itu tulisan ini bertujuan guna menjelaskan dinamika globalisasi. Yang mengakibatkan timbulnya permasalahan imigrasi di eropa. Serta menjelaskan faktor penyebab masalah imigrasi itu muncul.

Genealogi Imigrasi di Eropa

            Pasca Perang Dunia II, Perancis, Belgia, dan Jerman mulai banyak menarik para pekerja asing untuk datang. Akibat derasnya ekonomi di negara-negara tersebut, menarik imigran, pertama dari negara-negara miskin Eropa. Inggris, Belanda, dan Italia menarik imigran dari bekas koloni mereka. Tuan rumah pemerintah Eropa menganggap migran ini menjadi pekerja tamu sementara seperti yang dilakukan banyak migran itu sendiri.

Krisis ekonomi yang terjadi awal tahun 1970 menyebabkan pembuat kebijakan Eropa untuk menyadari bahwa imigrasi tidak selalu merupakan fenomena positif. Banyak imigran tiba-tiba menganggur, tapi mereka tidak kembali ke negara asal mereka. Karena kekhawatiran tumbuh bahwa pekerja asing mencari tempat tinggal permanen, sekitar 1973 dan 1975, pemerintah Eropa Barat menerapkan sebuah upaya penghentian imigrasi, dengan memperkenalkan tindakan pembatasan untuk mencegah imigrasi dan menghentikan perekrutan tenaga kerja asing.

Tapi hal tersebut tidak menghentikan kegiatan imigrasi, dalam dekade-dekade yang telah berlalu sejak pemerintah masing-masing negara menghentikan imigrasi, makin banyak imigran yang datang ke Eropa daripada dekade sebelumnya. Memang, dengan melihat jumlah imigran di berbagai negara, akan sulit untuk menentukan seberapa jauh penutupan peluang imigrasi ini telah dilaksanakan dalam praktek. Di Belanda, misalnya, jumlah imigran Maroko dan Turki pertama dan generasi kedua telah meningkat hampir sepuluh kali lipat  sejak berhenti tahun 1974.5

Syahdan, banyak imigran dari Asia dan Afrika mengisi lapangan pekerjaan di Eropa. Bahkan sampai ada yang membuat nama kampung, seperti yang dilakukan oleh bangsa China. Dengan membuat nama Chinatown di setiap mereka menetap. Sebagai bukti eksistensi dirinya. Semakin banyak orang yang pindah dari sebuah kota atau desa tertentu, semakin besar kemungkinan tetangga mereka atau anak-anak tetangga mereka akan mengikuti jalan mereka. Dinamika imigrasi tersebut berarti bahwa seluruh generasi anak-anak di desa-desa dan kota-kota di Dunia Ketiga tumbuh dengan pengetahuan bahwa mereka cenderung untuk berimigrasi di masa depan, baik dengan menikahi sepupu atau dengan cara lain.

Banyak juga dari mereka para imigran yang menjadi warga negara di tempat dimana dia mencari pekerjaan. Macam imigran-imigran Asia dan Afrika yang berprofesi sebagai atlit sepakbola. Malah mereka menjadi andalan dari tim nasional dimana mereka bukan lahir di negara tersebut. Hanya mempunyai garis keturunan saja. Dan kemudian inilah yang melestarikan kegiatan imigrasi di Eropa, sampai mereka beranak pinak.

Globalisasi: Dampak atau Penyebab

Globalisasi mempercepat perpindahan barang dan jasa di seluruh dunia melalui perdagangan bebas. Perkembangan teknologi telekomunikasi dan transportasi tak pelak membuat masyarakat dunia menjadi lintas batas. Menurut Castle dan Miller, periode modern perpindahan manusia ditandai tidak hanya semakin tingginya angka migrasi manusia lintas batas negara, tetapi juga pertumbuhan signifikan migrasi dalam secara ekonomis, sosial, kultural, dan politik. Perdagangan dunia yang meniscayakan perpindahan modal, barang, dan jasa juga mengikutsertakan perpindahan manusia.

Kemajuan teknologi juga mengubah perilaku kaum imigran. Akses perjalanan telah mengubah perjalanan bulanan atau tahunan menjadi jam atau hari. Karena pesatnya kegiatan penerbangan. Telpon dan internet, menjadi sarana kaum imigran tetap bisa melakukan kontak dengan negara asalnya. Ia juga dapat kembali untuk liburan musim panas. Sedangkan imigran lain mesti mengasimilasikan budaya mereka dengan negara dimana dia tinggal. Bahkan atas alasan tertentu mereka mesti menjadi warga negara Eropa.

Tentu tidak banyak yang memandang globalisasi sebagai masalah dari imigrasi. Masalah imigrasi di Eropa sendiri menjadi sebuah isu baru memasuki tahun 1980-an, ketika terjadi resesi pada banyak negara industri menyebabkan tingginya angka pengangguran, instabilitas ekonomi dan politik. Pada saat itulah pemerintah baru menyadari bahwa mereka menanggung beban tingginya angka pengangguran yang menimpa baik masyarakat asli maupun pendatang. Masyarakat asli cenderung menyalahkan migran, karena dianggap mengambil peluang kerja mereka. Kondisi ini seperti memberikan daya dorong bagi munculnya sentimen anti imigran dan xenophobia yang diusung kelompok-kelompok rasis Neo Nazi di Jerman dan Austria, Sayap Kanan di Inggris, dan kebijakan anti migran oleh pemerintah Perancis.

            Kekinian hal itu mencuat lagi, peristiwa peledakan bom di kota Oslo dan penembakan di Pulau Utoya pertengahan tahun. Yang memakan jumlah korban sekitar 93 orang yang kebanyakan adalah pemuda, membuat Norwegia sebagai negara teraman di dunia tercoreng reputasinya. Pemerintah setempat langsung beranggapan ini merupakan masalah dari imigrasi. Begitupun yang terjadi di Inggris dan Perancis. Dimana seorang tentaranya setelah habis dinas ke Asia, dibunuh oleh oknum yang kemudian diketahui seorang imigran dari Asia.

            Isu-isu perbatasan yang terbuka dan imigrasi sekarang banyak menjadi bagian dari krisis Eropa hari-hari ini, yang mencakup keraguan atas masa depan keuangan zona euro. Partai-partai ekstrem kanan Skandinavia telah menentang bail-out keuangan Uni Eropa untuk anggota yang lebih lemah seperti Yunani dan Portugal. Penentangan itu menjadi sebuah ancaman nyata saat transaksi itu harus memperoleh persetujuan secara bulat di antara 27 anggota Uni Eropa. Harian konservatif Jerman, Die Welt, pada Mei, secara tepat melaporkan hal itu dengan menulis, "Perbatasan terbuka atau mata uang bersama tidak menyebabkan negara-negara (anggota Uni Eropa) menjadi merata pertumbuhannya. Sebaliknya, negara-negara itu berkeras untuk mempertahankan karakteristik nasional mereka."6

Kesimpulan

            Fenomena kegiatan perpindahan penduduk yang terjadi di eropa serta masalah yang ditumbulkannya kekinian. Kini malah diwarnai sentimen konflik fundamentalisme. Adanya pertentangan soal multikulturalisme dan gagasan bangsa Eropa sebagai sebuah ras yang unggul. Sentimen ini berasal dari kesaksian pelaku bom di Oslo.
            Dan akibat dari kegiatan imigrasi di Inggris, Perancis, yang menyebabkan terbunuhnya tentara dua negara tersebut. Munculah sentimen antiislam, yang kemudian diperparah dengan semangat perang salib. Menjadi paradigma yang diterima oleh orang eropa kebanyakan di hari ini.
            Kegiatan imigrasi melibatkan dua kebudayaan yang berbeda. Perasaan saling curiga seringkali mewarnai keduanya. Konflik ini tentu dapat dilihat sebagai buah globalisasi. Yang digadang-gadang dapat mempersatukan umat manusia yang berbeda. Ternyata globalisasi pun tidak dapat menyembuhkan perbedaan. Malah makin memperlebar jurang konflik akibat pengangguran dan kemiskinan. Serta distribusi kekayaan yang tidak merata. Dan itu ada di Eropa sampai hari ini.

 

1   Esai tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Sejarah Eropa Modern
2   Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta
3 Artikel Ahmad Muhammad, “Globalisasi dan Migrasi: Problematika Integrasi Imigran Turki ke dalam Masyarakat Jerman”, ahmad_m-fisip11.web.unair.ac.id
4  Terjemahan Artikel Esther Ben-David, “Europe’s Shifting Immigration Dynamic”, dalam Middle East Quarterly, Spring 2009, fleepzfloopz.blog.com
5  idem
6  Sumber CNN, Editor Edigius Patnitik, Kompas.com
 
 Bacaan Pendukung

Franz Magnis Suseno, Peta Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Anderson, Benedict, Imagined Communities. Jogjakarta: Insistpress, 2009.







Unknown

Halo Pembaca, bila tulisan ini berkenan bagi Anda silahkan disebar dan berikan komentar ya, terimakasih

0 komentar: