Globalisasi dan Problematika Imigrasi di Eropa1
Satriono Priyo Utomo2
Abstrak: Salah satu tujuan dari globalisasi ialah
mempertemukan seluruh umat manusia di dalam sebuah wadah kegiatan ekonomi
bersama, yaitu produksi, distribusi dan konsumsi. Hal ini merupakan konsekuensi
dari derasnya roda industri, akibat revolusi industri di eropa. Dengan
kapitalisme sebagai perangkatnya. Melalui deregulasi, privatisasi, serta
ekspolitasi. Arus industri ini membutuhkan tenaga kerja murah sebagai
konsekuensinya. Dan praktik imigrasi niscaya representasi atas kebutuhan
kapitalisme eropa. Selain sebagai wujud eksploitasi manusia atas manusia,
imigrasi tidak ubahnya menjadi instrumen perluasan pasar atas produk
kapitalisme eropa. Dan problem dari itu bukan sekadar pertentangan kelas
sosial, lebih kompleks. Yaitu konflik ras, agama, dan suku.
Kata Kunci: Imigrasi, globalisasi, kapitalisme, industri, kelas,
sosial, penduduk, wilayah, konflik.
Pendahuluan
Dalam
sejarah perkembangan masyarakat yang digambarkan oleh Karl Marx. Perpindahan
manusia dari satu tempat ke tempat yang lainnya bukanlah hal baru. Terkadang
perpindahan tersebut diwarnai oleh penaklukan-penaklukan antar komunitas. Yang
lebih terlihat dari perpindahan tersebut, utamanya ialah berubahnya cara
produksi atau bertahan hidup suatu komunitas manusia.
Cara
produksi nomaden, berburu, bertani, dan berindustri. Merupakan hasil dari
kebiasaan manusia yang telah berlangsung lama yaitu berpindah tempat. Namun di
era kekinian, fenomena perpindahan tempat (migrasi) sebetulnya tidak jauh
berbeda. Tetapi, menemukan bentuk lain, baik dari segi motif, skala, jarak
maupun akibat yang ditimbulkannya. Tidak seperti di masa lalu dimana migrasi
kebanyakan terjadi di dalam satu wilayah komunitas kecil.
Migrasi sekarang ini sudah
melintasi batas teritorial negara, bahkan benua. Globalisasi meniscayakan
adanya hubungan yang sangat integral antara satu masyarakat dengan yang lain
yang diakibatkan oleh semakin kaburnya hambatan-hambatan jarak dan informasi.3
Tentu hal ini merupakan efek dari industrialisasi di eropa, akibat semangat
revolusi industri. Yang mempunyai dampak berubahnya sistem ekonomi, serta
politik di eropa yang kemudian merambat pada dunia melalui kegiatan
imperialisme dan kolonialismenya.
Efek politiknya sendiri di
eropa ialah adanya Revolusi Perancis. Dimana penyebabnya ialah merebaknya
berbagai macam gagasan-gagasan besar. Seperti liberalisme, demokrasi, sampai
sosialisme. Tentu hal ini menjadi catatan besar bagi eropa. Sebab, konflik
sosial tidak dapat dihindari oleh bangsa Eropa. Sekalipun mereka lebih banyak
diuntungkannya atas pesatnya industrialisasi. Yang kemudian menjadikan
bangsa-bangsa lain macam Asia dan Afrika. Sebagai sapi perah yang melulu
ditindas dan dihisap olehnya.
Kekinian, Eropa mesti
menerima dampak industrialisasi yang kemudian menghasilkan gagasan globalisasi.
Yaitu, Eropa menjadi tempat tujuan imigrasi bagi bangsa-bangsa Asia maupun
Afrika, baik muslim maupun bukan. Yang kalau kita ketahui, justru masyarakt
Eropa mengisi wilayah-wilayah yang hari ini didominasi olehnya yaitu benua
Amerika Utara dan Australia. Tapi nampaknya itu semua sudah berakhir sejak
imperialisme dan kolonialisme secara kasat mata, sudah tidak ada di belahan
bumi Asia dan Afrika. Yaitu ketika berakhirnya Perang Dunia II. Banyak
orang-orang Afrika dan Asia mencari penghidupan di Eropa. Yang sebagian besar
kedatangan mereka tidak lebih masih mempunyai ikatan
kolonialisme.
Bahkan mereka yang telah
menetap di kota-kota Eropa tetap mempertahankan mentalitas desa dan dilihat
sebagai keterbelakangan oleh elit bisnis dan budaya di negara mereka tinggal.
Orang-orang Maroko yang menetap di Belanda dan Belgia, misalnya, sebagian besar
adalah orang Berber dari pegunungan Rif, bukan elite budaya Arab dari
Casablanca, Rabat, atau Fez. Imigran ini datang ke Eropa untuk membangun rel
kereta api, bekerja di tambang batu bara, pembersihan jalan, dan
pekerjaan-pekerjaan yang orang Eropa tidak ingin lakukan. Kedua hal itu
merupakan faktor yang “mendorong” dan “menarik” pengaruh imigrasi. Faktor yang
“mendorong” adalah yang mendorong imigran untuk meninggalkan tanah airnya
sedangkan faktor yang “menarik” adalah mereka yang menarik mereka untuk pergi
ke negara yang berbeda. Eropa dan negara-negara liberal Barat lainnya mempunyai
daya tarik yang kuat pada imigran. Namun, menghentikan imigrasi tidak mudah,
itupun jika mungkin, karena hukum di negara-negara liberal Eropa yang menarik
imigran itu sekaligus mencegah negara untuk menghentikan mereka datang atau,
lalu kemudian, mendeportasi mereka.4
Untuk itu tulisan ini
bertujuan guna menjelaskan dinamika globalisasi. Yang mengakibatkan timbulnya
permasalahan imigrasi di eropa. Serta menjelaskan faktor penyebab masalah
imigrasi itu muncul.
Genealogi Imigrasi di Eropa
Pasca
Perang Dunia II, Perancis, Belgia, dan Jerman mulai banyak menarik para pekerja
asing untuk datang. Akibat derasnya ekonomi di negara-negara tersebut, menarik
imigran, pertama dari negara-negara miskin Eropa. Inggris, Belanda, dan Italia menarik
imigran dari bekas koloni mereka. Tuan rumah pemerintah Eropa menganggap migran
ini menjadi pekerja tamu sementara seperti yang dilakukan banyak migran itu
sendiri.
Krisis ekonomi yang terjadi
awal tahun 1970 menyebabkan pembuat kebijakan Eropa untuk menyadari bahwa
imigrasi tidak selalu merupakan fenomena positif. Banyak imigran tiba-tiba
menganggur, tapi mereka tidak kembali ke negara asal mereka. Karena
kekhawatiran tumbuh bahwa pekerja asing mencari tempat tinggal permanen, sekitar
1973 dan 1975, pemerintah Eropa Barat menerapkan sebuah upaya penghentian
imigrasi, dengan memperkenalkan tindakan pembatasan untuk mencegah imigrasi dan
menghentikan perekrutan tenaga kerja asing.
Tapi hal tersebut tidak
menghentikan kegiatan imigrasi, dalam dekade-dekade yang telah berlalu sejak
pemerintah masing-masing negara menghentikan imigrasi, makin banyak imigran
yang datang ke Eropa daripada dekade sebelumnya. Memang, dengan melihat jumlah
imigran di berbagai negara, akan sulit untuk menentukan seberapa jauh penutupan
peluang imigrasi ini telah dilaksanakan dalam praktek. Di Belanda, misalnya,
jumlah imigran Maroko dan Turki pertama dan generasi kedua telah meningkat
hampir sepuluh kali lipat sejak berhenti
tahun 1974.5
Syahdan, banyak imigran dari
Asia dan Afrika mengisi lapangan pekerjaan di Eropa. Bahkan sampai ada yang
membuat nama kampung, seperti yang dilakukan oleh bangsa China. Dengan membuat
nama Chinatown di setiap mereka menetap. Sebagai bukti eksistensi dirinya. Semakin
banyak orang yang pindah dari sebuah kota atau desa tertentu, semakin besar
kemungkinan tetangga mereka atau anak-anak tetangga mereka akan mengikuti jalan
mereka. Dinamika imigrasi tersebut berarti bahwa seluruh generasi anak-anak di
desa-desa dan kota-kota di Dunia Ketiga tumbuh dengan pengetahuan bahwa mereka
cenderung untuk berimigrasi di masa depan, baik dengan menikahi sepupu atau
dengan cara lain.
Banyak juga dari mereka para
imigran yang menjadi warga negara di tempat dimana dia mencari pekerjaan. Macam
imigran-imigran Asia dan Afrika yang berprofesi sebagai atlit sepakbola. Malah
mereka menjadi andalan dari tim nasional dimana mereka bukan lahir di negara
tersebut. Hanya mempunyai garis keturunan saja. Dan kemudian inilah yang
melestarikan kegiatan imigrasi di Eropa, sampai mereka beranak pinak.
Globalisasi: Dampak atau
Penyebab
Globalisasi mempercepat
perpindahan barang dan jasa di seluruh dunia melalui perdagangan bebas. Perkembangan
teknologi telekomunikasi dan transportasi tak pelak membuat masyarakat dunia
menjadi lintas batas. Menurut Castle dan Miller, periode modern perpindahan
manusia ditandai tidak hanya semakin tingginya angka migrasi manusia lintas
batas negara, tetapi juga pertumbuhan signifikan migrasi dalam secara ekonomis,
sosial, kultural, dan politik. Perdagangan dunia yang meniscayakan perpindahan
modal, barang, dan jasa juga mengikutsertakan perpindahan manusia.
Kemajuan teknologi juga
mengubah perilaku kaum imigran. Akses perjalanan telah mengubah perjalanan
bulanan atau tahunan menjadi jam atau hari. Karena pesatnya kegiatan
penerbangan. Telpon dan internet, menjadi sarana kaum imigran tetap bisa
melakukan kontak dengan negara asalnya. Ia juga dapat kembali untuk liburan
musim panas. Sedangkan imigran lain mesti mengasimilasikan budaya mereka dengan
negara dimana dia tinggal. Bahkan atas alasan tertentu mereka mesti menjadi
warga negara Eropa.
Tentu tidak banyak yang
memandang globalisasi sebagai masalah dari imigrasi. Masalah imigrasi di Eropa
sendiri menjadi sebuah isu baru memasuki tahun 1980-an, ketika terjadi resesi
pada banyak negara industri menyebabkan tingginya angka pengangguran,
instabilitas ekonomi dan politik. Pada saat itulah pemerintah baru menyadari
bahwa mereka menanggung beban tingginya angka pengangguran yang menimpa baik
masyarakat asli maupun pendatang. Masyarakat asli cenderung menyalahkan migran,
karena dianggap mengambil peluang kerja mereka. Kondisi ini seperti memberikan
daya dorong bagi munculnya sentimen anti imigran dan xenophobia yang diusung
kelompok-kelompok rasis Neo Nazi di Jerman dan Austria, Sayap Kanan di Inggris,
dan kebijakan anti migran oleh pemerintah Perancis.
Kekinian
hal itu mencuat lagi, peristiwa peledakan bom di kota Oslo dan penembakan di
Pulau Utoya pertengahan tahun. Yang memakan jumlah korban sekitar 93 orang yang
kebanyakan adalah pemuda, membuat Norwegia sebagai negara teraman di dunia
tercoreng reputasinya. Pemerintah setempat langsung beranggapan ini merupakan
masalah dari imigrasi. Begitupun yang terjadi di Inggris dan Perancis. Dimana
seorang tentaranya setelah habis dinas ke Asia, dibunuh oleh oknum yang
kemudian diketahui seorang imigran dari Asia.
Isu-isu
perbatasan yang terbuka dan imigrasi sekarang banyak menjadi bagian dari krisis
Eropa hari-hari ini, yang mencakup keraguan atas masa depan keuangan zona euro.
Partai-partai ekstrem kanan Skandinavia telah menentang bail-out keuangan Uni
Eropa untuk anggota yang lebih lemah seperti Yunani dan Portugal. Penentangan
itu menjadi sebuah ancaman nyata saat transaksi itu harus memperoleh
persetujuan secara bulat di antara 27 anggota Uni Eropa. Harian konservatif
Jerman, Die Welt, pada Mei, secara tepat melaporkan hal itu dengan menulis,
"Perbatasan terbuka atau mata uang bersama tidak menyebabkan negara-negara
(anggota Uni Eropa) menjadi merata pertumbuhannya. Sebaliknya, negara-negara
itu berkeras untuk mempertahankan karakteristik nasional mereka."6
Kesimpulan
Fenomena kegiatan perpindahan penduduk yang terjadi di
eropa serta masalah yang ditumbulkannya kekinian. Kini malah diwarnai sentimen
konflik fundamentalisme. Adanya pertentangan soal multikulturalisme dan gagasan
bangsa Eropa sebagai sebuah ras yang unggul. Sentimen ini berasal dari
kesaksian pelaku bom di Oslo.
Dan
akibat dari kegiatan imigrasi di Inggris, Perancis, yang menyebabkan
terbunuhnya tentara dua negara tersebut. Munculah sentimen antiislam, yang
kemudian diperparah dengan semangat perang salib. Menjadi paradigma yang
diterima oleh orang eropa kebanyakan di hari ini.
Kegiatan
imigrasi melibatkan dua kebudayaan yang berbeda. Perasaan saling curiga
seringkali mewarnai keduanya. Konflik ini tentu dapat dilihat sebagai buah
globalisasi. Yang digadang-gadang dapat mempersatukan umat manusia yang
berbeda. Ternyata globalisasi pun tidak dapat menyembuhkan perbedaan. Malah
makin memperlebar jurang konflik akibat pengangguran dan kemiskinan. Serta
distribusi kekayaan yang tidak merata. Dan itu ada di Eropa sampai hari ini.
1 Esai
tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Sejarah Eropa Modern
2 Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta
3 Artikel Ahmad Muhammad, “Globalisasi dan Migrasi:
Problematika Integrasi Imigran Turki ke dalam Masyarakat Jerman”, ahmad_m-fisip11.web.unair.ac.id
4 Terjemahan Artikel Esther Ben-David, “Europe’s
Shifting Immigration Dynamic”, dalam Middle East Quarterly, Spring 2009, fleepzfloopz.blog.com
5 idem
6 Sumber CNN,
Editor Edigius Patnitik, Kompas.com
Bacaan Pendukung
Franz Magnis Suseno, Peta Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme
Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2005.
Anderson, Benedict, Imagined
Communities. Jogjakarta: Insistpress, 2009.
.png)

0 komentar: