Tanah, Air, dan Masyarakat Asia Tenggara*

21.34 0 Comments


Sebuah Tinjauan Ulang Tulisan Anthony Reid Menyoal Kesejahteraan Fisik
Satriono Priyo Utomo** 
 
Pernah dalam salah satu karya Tetralogi Pulau Buru, Pram menulis, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.” Ini kalimat sebetulnya ingin menunjukan bahwa masyarakat kita (Asia Tenggara) ialah masyarakat pekerja keras dan gigih. Menjelaskan bahwa bentuk peradaban paling tinggi sesungguhnya terdapat pada masyarakat Asia Tenggara. Yang terlihat pada cara mereka mengolah tanah dan menjadikannya lahan-lahan pertanian.  Hal itu menunjukan bukan saja salah satu hal kegiatan bertahan hidup, tetapi proses manusia mengenal alamnya guna menemukan makna sosial.

Tetapi, masyarakat Asia Tenggara tidaklah hidup sendiri. Dia hidup dikelilingi oleh komunitas di sekitarnya. Sampai kemudian beberapa peneliti mengungkapkan bahwa komunitas Asia Tenggara ialah masyarakat yang pasif. Hal ini ditandai dengan proses indianisasi, islamisasi, dan kolonialisasi. Yang mewarnai dialektika kehidupan komunitas Asia Tenggara.

Istilah sebagai komunitas yang pasif ini sebelumnya pernah diingatkan oleh sejarawan kelahiran Selandia Baru yaitu Anthony Reid. Dalam penjelasannya Reid berkata bahwa karena iklimnya lunak dan makanan pokoknya beras, ikan, serta buah-buahan tersedia secara lebih pasti dibandingkan dengan sebagian besar dunia lainnya. Maka orang Asia Tenggara mempunyai keuntungan alamiah untuk bebas dari perjuangan terus-menerus untuk bertahan hidup.

Jelas, pada pernyataan ini kemudian, kita dapat menemukan alasan. Kedatangan bangsa lain ke Asia Tenggara bukan tidak mungkin motif utamanya ialah untuk mendapatkan sumber makanan yang melimpah. Serta pada fase kemudian dalam kolonialisasi. Bangsa-bangsa eropa ingin mendapatkan tenaga-tenaga masyarakat Asia Tenggara yang sebagian besar tidak terpakai. Karena iklimnya yang sudah memanjakan masyarakatnya dengan limpahan sumber bahan makanan.

Untuk itu, tulisan ini sebetulnya ingin menerangkan. Sebab atau asal muasal lahirnya proses kolonialisasi. Yang lebih menitik beratkan pada penjelasan tentang kondisi material di Asia Tenggara. Melalui salah satu Artikel Anthony Reid berjudul Kesejahteraan Fisik yang terdapat dalam bukunya berjudul, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin.

Tanah dan Makanan Asia Tenggara

Konsep sebagai sebuah wilayah yang disebut Asia Tenggara, memang baru lahir ketika Perang Dunia II. Dimana wilayah yang ada di dalamnya yaitu Indo-China, Malaya, dan Hindia Timur. Dikategorikan berikilim tropis, dikarenakan melewati garis khatulistiwa. Dengan iklim yang seperti ini, dapat dikatakan, matahari sangat bersahabat guna memberikan sumber makanan bagi makhluk seisinya.

Oleh karenanya, Reid mencatat betul bahwa beras merupakan makanan dan hasil bumi paling pokok di Asia Tenggara. Dengan kondisi iklim ini, selain beras yang dapat dihasilkan dari tanah Asia Tenggara. Bahan makanan pokok lainnya seperti talas, ubi, sagu, dan sejenis gandum. Menurut Reid, kiranya telah mendahului padi, hal ini ditemukan di gugus kepulauan Asia Tenggara.

Tentu, tanaman-tanaman tersebut tadi tidak hadir begitu saja tanpa campur tangan masyarakat Asia Tenggara. Yang dikenal pekerja keras dilihat dari hasil olah kerjanya. Meskipun sagu, secara alamiah tumbuh di hutan-hutan kepulauan Asia Tenggara: Kepulauan Aru, Buton, dan Selayar.

Reid kemudian menjelaskan, pada abad ke-16, ada tiga jenis cara menanam padi yang dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara: pertanian berpindah pada lereng-lereng rendah, menyebar benih di ladang yang tergenang, dan menanam kembali benih di sawah. Hal ini dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara karena pengetahuan teknis yang dimiliki oleh Asia Tenggara. Dan Boserup memberikan pendapat bahwa ketiga cara ini sering dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara dalam penduduk yang sama.

Pendapat itu kemudian mesti dilihat pada bahwa peralihan dari pertanian berpindah yang meluas ke persawahan yang lebih intensif terjadi karena tekanan penduduk. Reid menjelaskan hal itu terjadi karena rendahnya rasio antara manusia dan tanah di Asia Tenggara pada waktu itu secara teoritis akan memungkinkan semua orang hidup dari pertanian berpindah. Kemudian Reid memaparkan bahwa irigasi persawahan berlaku di daerah Kyaukse, Birma, dan di Jawa bagian timur setidak-tidaknya dari abad ke-18.

Hal itu kemudian akan membawa kita pada penjelasan yang khas untuk masyarakat Asia Tenggara yaitu cara pertanian justru terutama ditentukan oleh keadaan fisik tiap daerah, baru setelah itu ditentukan oleh tekanan penduduk. Meskipun penggunaan tanah di Asia Tenggara selalu kesulitan menemukan tenaga kerja. Kurangnya tenaga kerja dibandingkan dengan tanah, kemudian menimbulkan pola sosial patriarkal yang manusianya, bukan tanah, menjadi sasaran persaingan antar penguasa di Asia Tenggara. (Reid 1992)

Syahdan, dari jenis pertanian tersebut beras menjadi sangat dominan sebagai bahan makanan pokok masyarakat Asia Tenggara yang juga dijadikan sebagai sumber kalori. Dua bahan utama lainnya yang juga menjadi makanan dan banyak diperdagangkan ialah garam dan ikan. Yang banyak diproduksi oleh masyarakat kepulauan dan pesisir Asia Tenggara.

Penduduk pantai umumnya tahu betul cara membuat garam. Reid mengutip Galvao memaparkan bahwa orang maluku membuatnya dengan menuangkan air laut ke unggunan api di pantai, kemudian merebus lagi abunya dengan air laut. Sedangkan di daerah lain, yang memiliki musim kemarau panjang. Bertani garam dengan cara membiarkan matahari mengeringkan air laut, yang sudah di petak-petakan di tepi pantai. Ini terdapat di wilayah sepanjang pantai utara Jawa Timur, seperti di pelabuhan juwana dan Surabaya. (Reid 1992)

Ini kemudian mencirikan kreatifitas dari masyarakat Asia Tenggara. Selain tanahnya yang dilimpahi sumber makanan yang masif. Asia Tenggara juga dilimpahi dengan beragamnya hasil ikan. Beberapa penjelajah seperi Marco Polo dan Cheng Ho, mengamini bahwa Asia Tenggara dilimpahi dengan ikan. Sampai-sampai di Melaka dan Champa, penangkapan ikan dikatakan sebagai pekerjaan utama kaum pria, jauh di atas pertanian. Alhasil, Loarca (1582), pernah menyatakan bahwa penduduk pegunungan tidak bisa hidup tanpa ikan, garam, dan bahan makanan lainnya dari daerah-daerah lain. Begitu juga penduduk pantai tidak bisa hidup tanpa beras dan kapas dari penduduk pedalaman. Hal ini selain mencerminkan adanya simbiosis mutualisme antara penduduk pesisir dengan pedalaman. Juga menyatakan ada interaksi aktif, antara mereka, sehingga makanan menjadi medium sosial masyarakat Asia Tenggara.

Selain beras, ikan dan garam. Tanah Asia Tenggara juga menghasilkan sayuran dan rempah-rempah. Meskipun sumber-sumber asing tidak begitu banyak melaporkan tentang melimpahnya sayur-mayur dibandingkan dengan rempah-rempah dan buah-buahan. Melalui sayur-mayur dan rempah-rempah inilah kemudian medium interaksi sosial meluas. Banyaknya ekspedisi yang dilakukan baik penjelajah dari Cina maupun bangsa lainnya.

Bagi penjelajah Cina, lebih mengutamakan bisa memiliki sayur-mayur dan buah-buahan dari Asia Tenggara. Seperti: timun, bawang, jahe, buah persik, buah prem, dan buah lika. Mengisi padat kapal-kapal penjelajh Cina seperti Cheng Ho. Sedangkan bangsa Eropa lebih mengincar hasil rempah-rempah Asia Tenggara.

Orang Eropa dan Cina sama-sama terkesan oleh keragaman, dan kegemaran berlebihan dalam menikmati buah-buahan Asia Tenggara, akibatnya banyak membuat orang-orang itu terserang penyakit. Untu masyarakat Asia Tenggara sendiri, kelapa, pepaya merupakan sumber makanan utama. Mangga dipakai menjadi asinan sebagai teman menyantap nasi.

Selain itu, Asia Tenggara juga dilimpahi dengan daging hewan. Tetapi di Asia Tenggara makan daging selalu bermakna ritus karena erat kaitannya dengan upacara pengorbanan masyarakat Asia Tenggara kepada alamnya. Sifat sebagai pengorbanan ini paling terlihat jika animisme tidak begitu memberi tempat pada agama-agama dunia yang baru, sehingga roh-roh orang mati bisa diundang ramai-ramai untuk berpesta. Tetapi di pusat-pusat agama islam pun, kebiasaan makan daging yang menyertai upacara-upacara keagamaan yang penting, khususnya penguburan dan perkawinan, masih mengandung kesan-kesan pengorbanan hewan untuk para leluhur.

Di abad ke-16, orang Makassar di Sulawesi sebuah kepulauan di Hindia Timur, terkenal menolak islam karena babi merupakan sumber makanan mereka. Menurut kronik setempat, ketika distrik itu diajak menerima islam pada abad ke-17 oleh raja Makassar dengan ancaman perang jika menolak, seorang penguasa terkemuka berkata dengan menantang bahwa dia tidak akan memeluk islam meskipun sungai dipenuhi darah.

Artinya, memakan hewan dipandang sebagai sebuah hal yang mewah di Asia Tenggara. Seperti yang dilakukan oleh Raja Birma, Shembuan mengeluarkan pengumuman larangan membunuh hewan. Meski orang Birma dan Thai pada abad ke-19 kurang makan daging, itu karena ritus seperti penguburan dan perkawinan sudah menjadi urusan biarawan Budha.

Sumber Minum

Di daerah-daerah perbukitan, air bersih sering mengalir dari gunung, dan aliran ini bisa di bawa ke rumah-rumah dengan pipa bambu. Rumah-rumah di Brunei saja, yang dibangun tidak jauh dari laut tapi dekat dengan sumber-sumber air dari perbukitan sebelahnya, bisa menikmati air gunung. Tapi masih banyak juga masyarakat Asia Tenggara yang tidak bisa menikmati air pegunung seperti masyarakat pesisir, sehingga mesti mengambil air sungai.

Kemudian melalui sumber air ini, ada praktek khas yang dilakukan oleh Asia Tenggara dalam menghormati air. Kebiasaan mencampur air dengan limun, kayu manis, buah pala, tapi praktik ini tidak berguna untuk membunuh bakteri. Masyarakat Asia Tenggara hanya memakainya untuk dinikmati saja. Ada praktik lain, yaitu membiarkan air di dalam kendi, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Tujuannya akan lebih menjernihkan air agar enak pula rasanya. Terdapat bukti-bukti bahwa orang Asia Tenggara sudah mulai merebus air yang kotor, karena mengikuti orang Cina.

Kesimpulan

Lebatnya rimba Asia Tenggara, menjadikan masyarakatnya dilimpahi sumber makanan yang tak terhingga. Sehingga memaksa mereka bukan hanya bicara tentang bagaimana mengolahnya agar dapat bertahan hidup guna kehidupan masa depan. Melainkan mesti mempertahankannya dari keuntungan-keuntungan pribadi. Agar tetap makan dan minuman tersebut menjadi medium interaksi sosial masyarakat Asia Tenggara mengenal komunitasnya. Dari yang terkecil sampai bagian yang terbesar.

Terjadinya islamisasi, indianisasi, dan kolonisasi. Adalah nilai dari medium tersebut. Makanan dan minuman Asia Tenggara, banyak mengantarkan kita pada alasan-alasan mengapa Asia Tenggara hari ini menjadi bangsa yang miskin dan terbelakang. 

*Makalah Mata Kuliah Sejarah Asia Tenggara
**Mahasiswa Pendidikan Sejarah, UNJ

Sumber Bacaan
           Reid, Anthony. 1992. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I. Jakarta, YOI.
           Reid, Anthony. 1992. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid II. Jakarta, YOI.
 
 
 

Unknown

Halo Pembaca, bila tulisan ini berkenan bagi Anda silahkan disebar dan berikan komentar ya, terimakasih

0 komentar: