Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Aidit dan Marxisme


Marxisme atau Marxisme-Leninsme adalah pedoman untuk beraksi, jadi tidak ada persamaannya dengan tumpukan-tumpukan mantra atau jampi yang dapat mengobati segala macam penyakit. Marxisme baru ada gunanya jika diterapkan secara kreatif. Aidit (1964: 115)

Pendahuluan

            Jika ada suasana yang tepat dalam menggambarkan dunia akademik sejarah pemikiran di Indonesia tidak lain adalah pemandangan sunyi dan gelap. Meski berpenghuni, seolah-olah wilayah sejarah pemikiran di Indonesia tidak bertuan. Artinya ada yang hidup tapi tidak ada makna dari kehidupan tersebut. Tidak ada sesuatu hal yang patut untuk dipijak.
            Sejarawan terlalu sibuk untuk menebalkan definisi bahwa sejarah hanya milik para pemenang: siapa yang pantas menjadi pahlawan, peristiwa mana saja yang mesti diakui dan harus diajarkan di sekolah. Mereka seolah lupa, tugas penelusuran ruang dan waktu adalah menegakan kemanusiaan. Dimana Kuntowijoyo pernah menyebut, mereka di antaranya menafikan kesadaran manusia.
              Di Barat, Bertrand Russel mampu merangkum pemikiran dari zaman kuno hingga kontemporer. Di Timur, sarjana-sarjana sejarah India dan Tiongkok sudah memposisikan para Bapak Bangsa sebagai pemikir. Dimana Sun Yat Sen dan Gandhi tidak hanya dilihat dari kegiatan politiknya. Karya San Min Chu I menjadi bacaan wajib sekolah menengah di Tiongkok. Indonesia mau tidak mau harus mengakui ketertinggalannya.
            Bukan karena masih terbukanya perdebatan untuk memposisikan Sukarno sebagai politikus atau pemikir atas Karya Legge dan Dahm.  Bukan juga sibuk memberikan identitas pada Tan Malaka apakah dia itu komunis atau bukan. Yang jelas ketertinggalan sejarah pemikiran kita terletak pada apakah kita mau berpikir adil dan bijak dalam mempelajari sejarah.
            Termasuk dalam menimbang dan memposisikan ulang bagaimana peran Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam mewarnai catatan sejarah kita. Dimana masih penuh dengan stigma. Termasuk pula dengan para tokoh-tokoh partai yang pada tahun 1955 itu menduduki posisi empat besar dalam pentas pemilu pertama republik ini berdiri. Salah satunya adalah Aidit.
            Berbicara sejarah Indonesia mestinya berbicara tentang PKI. Harus diakui bahwa PKI merupakan organisasi sentral dalam membangun dinamika sosial-politik di Indonesia, khususnya sejak masa pergerakan kemerdekaan. Karena pengaruhnya tidak hanya dalam ranah realitas sosial masyarakat kita waktu itu, juga terhadap semangat ilmiah PKI sebagai organisasi yang membacakan sejarah, juga menciptakan teori sejarah itu sendiri.
            Meski literasi sejarah kita diwarnai sikap-sikap akademik yang penuh gairah. Dimana Hindley dan Mc Vey mendasarkan pada kekaguman tentang kualitas para pemimpin PKI dan kader-kadernya itu, tentang kemampuan mereka berpolitik, tentang perhatian mereka yang sangat besar bagi kepentingan para pekerja, buruh pabrik, petani miskin dan buruh tani, tentang asesmen realistik terhadap situasi dan kondisi para pekerja tersebut, dan akhirnya, tentang relatif bersihnya mereka dari noda korupsi.2 Tapi tidak sedikit pun dari itu semua yang mendapat tempat bagi orang Indonesia sendiri. Untuk memposisikan ulang keberadaan PKI dan tokoh-tokohnya yang sesungguhnya mempunyai gagasan pemikiran cemerlang serta tradisi intelektual yang patut untuk diambil sebagai pijakan langkah ke depan.
            Atas dasar itu penulis ingin mencoba melihat kembali periodesasi tumbuhnya PKI setelah peristiwa 1948. Peran partai dan kehadiran gagasan pemimpinnya yaitu Aidit. Dimana sangat minim sekali literasi yang menjelaskan gagasan marxisme diterjemahkan dan dilaksanakan oleh pegiat organisasi yang mendasarkan partainya berdasar pada klasifikasi marxisme-leninsme tersebut.

            Kemunculan Aidit

            Kelak, keterlibatannya sebagai orang yang berpengaruh dalam PKI memang sudah ada sejak usia remaja. Achmad Aidit yang lahir pada 30 Juli 1923 di Belitung.3 Semasa remajanya dihabiskan di Belitung, dengan menyaksikan nasib buruh kecil di perusahaan tambang timah tempatnya lahir.
            Di Belitung Aidit bersekolah HIS. Kemudian pada tahun 1936-1938, atas permintaannya sendiri kepada ayahnya, dia diantar oleh pamannya ke Jakarta. Di Jakarta, selesai dari HIS, Aidit menempuh Sekolah Dagang Menengah. Di sinilah dia kemudian terlibat dalam pergerakan pemuda hingga memperoleh kesempatan dengan Barisan Pemuda Gerindo yang dipimpin Wikana dan dengan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang diketuai Chaerul Saleh.
            Waktu itu, dia meminta ayahnya untuk menyetujui pengubahan namanya menjadi Dipa Nusantara, dengan tetap mencantumkan nama ayahnya. Permintaan itu dikabulkan. Nama Dipa Nusantara itu untuk menghormati perjuangan pahlawan Dipenogoro dan agar memberi inspirasi pada Aidit dalam usahanya membebaskan nusantara.4
             Semasa hidup di Jakarta, Aidit harus mencari makan sendiri dengan menjual buku. Pekerjaan inilah yang kemudian memberikan dia kesempatan untuk membaca. Dia menjadi pemuda yang haus pengetahuan. Dimana tak puas-puasnya “menelan” buku-buku dan gemar mendirikan perpustakaan-perpustakaan kecil.
            Semasa penjajahan Jepang, Aidit menggabungkan diri bersama anak-anak muda di sekitar Sukarno dan Hatta. Saat itulah dia rajin menghadiri sekolah-sekolah politik dimana diisi oleh ceramah dari berbagai tokoh pergerakan masa itu.  Di kalangan pemuda sekitar Hatta itulah Aidit bertemu dengan Lukman.
            Pada 1944 Aidit mulai bekerja di kantor karisidenan Jatinegara. Bersama Lukman kemudian dia dipilih oleh Bung Karno ikut Barisan Pelopor Istimewa, yaitu kelompok yang terdiri dari seratus orang pejuang yang dianggap terdekat dan paling setia. Mereka sama-sama terlibat dalam gerakan yang pada 1945 bermarkas di Menteng Raya 31. Bersama Lukman pulalah Aidit memiliki kontak dengan tokoh-tokoh PKI macam Widarta dan kemudian Alimin kelak yang menjadi guru politiknya. Berkat bimbingan Alimin, Aidit menjadi pimpinan pada jurnal ilmiah milik PKI bernama Bintang Merah. Dia sudah menulis beberapa brosur pendidikan Marxis dan kemudian diangkat menjadi anggota Central Comite untuk bagian pendidikan/penerangan (agitprop), dibantu oleh Lukman. Dan oleh Jusuf ia dipinjami satu eksemplar buku karangan Karl Marx, Das Kapital.
            Pengaruh Aidit sebagai seorang teoritisi utama dalam perumusan kebijakan dan langkah-langkah partai setelah tahun 1950. Berperan sangat vital terhadap penentuan arah kebijakan yang diambil oleh partai. Dari sini secara tidak langsung berpengaruh pada keberhasilan partai dalam melipatgandakan jumlah anggotanya dan meningkatkan pengaruhnya.

Mengindonesiakan Marxisme

            Sesungguhnya marxisme tidak sama dengan komunisme. Komunisme yang juga disebut komunisme internasional adalah nama gerakan kaum komunis. Komunisme merupakan gerakan dan kekuatan politik dari partai-partai komunis yang sejak Revolusi Oktober 1917 di bawah pimpinan Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional. Istilah komunisme juga sering dipakai untuk ajaran komunisme atau marxisme-leninisme yang merupakan ajaran atau ideology komunisme. Jadi, marxisme menjadi salah satu komponen dalam sistem ideologi komunisme. Istilah marxisme sendiri adalah sebutan bagi pembakuan ajaran resmi Karl Marx yang terutama dilakukan oleh temannya Friedrich Engels (1820-1895) dan oleh tokoh teori Marxis Karl Kautsky (1854-1938).5 Inti dari marxisme ialah revolusi proletariat yang diekspresikan di bidang teori.
            Di Indonesia sendiri, keyakinan bahwa kaum kolonial memainkan peran penting dalam menopang sistem kapitalis bukan merupakan bagian asli pandangan marxis. Tradisi yang diusung kaum sosialis revolusioner Eropa tidak hanya cenderung mengabaikan masalah umum penjajahan tapi juga lebih jauh lagi menyangkal bahwa kaum komunis mengambil peran di wilayah terbelakang di seluruh dunia.
            Dengan demikian persoalan tanah jajahan tidak begitu penting dalam pemikiran Marxis. Hal itu berlangsung sampai beberapa tahun setelah meninggalnya Karl Marx, para pengikut Marx mulai mengintepretasikan ulang sistem yang telah ia letakkan guna memberikan peran lebih penting bagi negara-negara timur. Penafsiran ulang itu perlu dilakukan karena kemakmuran masyarakat negara-negara kapitalis yang belum pernah terjadi sebelumnya mereka nikmati pada peralihan abad. Marx menggambarkan masa depan Eropa akan mengalami krisis ekonomi yang mendalam dan meningkatkan kesengsaraan kaum proletar. Tetapi dalam kenyataannya negara-negara kapitalis menjadi lebih makmur dari sebelumnya, dan bahkan yang lebih mengejutkan bagi kaum revolusioner posisi sosial ekonomi kelas buruh meningkat tajam. Dengan demikian jelas dalil Marx dalam hal ini keliru, sistem yang telah diletakkannya diabaikan atau ditafsirkan ulang guna menjelaskan perkembangan baru.6
            Ini pula yang kelak akan dilakukan oleh tokoh-tokoh komunisme yang cenderung bisa dilihat sebagai pengkritis dan pemberharu marxisme Indonesia seperti Tan Malaka dan Aidit. Meskipun untuk pertama kalinya organisasi komunis formal di Indonesia tidak pernah ada sampai didirikannya Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) di bawah kepemimpinan Sneevliet pada tahun 1914, walau sesungguhnya masyarakat Indonesia sejak berabad-abad sebelumnya telah memiliki berbagai aspek yang dipandang sebagai sifat-sifat yang komunistik. Termasuk dalam hal ini adalah penyelenggaraan gotong royong oleh para penduduk di wilayah-wilayah pedesaan.
Dalam gotong royong ini setiap penduduk bertanggung jawab dalam pemeliharaan desa-desa mereka agar tetap pada kondisi yang wajar; struktur social dalam masyarakat Indonesia, dalam hal ini keberadaaan aliran-aliran dalam masyarakat, telah menghambat keberadaan kelas-kelas social di sepanjang garis-garis pemilah sosial yang horizontal; dan konsep kepemilikan tanah secara bersama (communal landholding) yang sesungguhnya telah ada sejak masa sebelum lahirnya kekuasaan feodal maupun kekuasaan kapitalistik ternyata dapat bertahan dan tidak tergoyahkan di berbagai wilayah pedesaan di Indonesia.7 Konsep-konsep tradisional ini hidup berdampingan dan memainkan peranan yang amat penting dalam langkah-langkah memodifikasi marxisme yang sesungguhnya berasal dari Eropa menjadi sebuah varian marxisme yang khas Indonesia yang memiliki berbagai ciri khas khusus pribumi.
            Kenyataannya memang terdapat sejumlah varian dalam marxisme di Asia yang membuatnya berbeda dengan versi aslinya dari Eropa. Perbedaan yang paling mendasar ialah dalam hal konsep. Hal penting lainnya adalah bahwa marxisme di Eropa memperlihatkan sikap ketidaksabaran terhadap tradisi, terhadap sifat-sifat khas sebuah kebudayaan, sikap-sikap akomodatif terhadap alam dan keberagaman dan sebagainya.
            Marxisme Asia berpandangan bahwa masyarakat industri adalah masyarakat yang penuh pengistimewaan dan bahwa dunia politik akan sangat menguasai kehidupan perekonomian. Bagi kaum marxis di Asia, masa depan dipahami dalam pengertian wilayah pedesaan yang berhasil direvitalisasi dan ditransformasikan dengan cara menyerap ke dalam dirinya segala hal yang positif dalam penemuan-penemuan terbaru di bidang teknologi, namun pada saat yang sama juga dilakukan pengendalian secara ketat terhadap cakupan dan sifat-sifatnya agar ia dapat dipergunakan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang bersifat egalitarian, partisipatoris dan pembebasan.8 Hal ini kemudian akan membawa pengaruh bagi pandangan marxisme di Indonesia. Belakangan ketika PKI berada di bawah kepemimpinan Aidit, masyarakat petani ini menjadi sasaran utama kegiatan partai. Dalam permasalahan ini Aidit berpendapat bahwa pembangunan sebuah basis massa bagi partai sebagai sesuatu hal yang paling penting.

Gagasan Besar Aidit

             Bagi Aidit sendiri marxisme di Indonesia mempunyai tujuan “…menghilangkan sisa-sisa feodalisme, membangun sebuah revolusi agraria yang anti feudal, melakukan penyitaan atas tanah milik para tuan tanah dan membagikannya secara gratis kepada para petani, terutama bagi para petani yang tak memiliki tanah dan miskin, dan akan menjadi milik mereka sendiri… Ini adalah landasan di mana akan diciptakan aliansi anatara kaum buruh dan petani tersebut sebagai basis bagi sebuah front nasional bersatu yang kuat…”9 Aidit menekankan bahwa sebenarnya rakyat tidak menginginkan teori-teori marxisme-leninisme. Sebaliknya mereka justru menginginkan perbaikan-perbaikan dalam banyak hal dalam kehidupan mereka.
            Landasan yang dijadikan pijakan oleh berbagai teoritisasi Aidit tentang masalah land reform ini adalah anggapannya bahwa meskipun telah berhasil memiliki kedaulatan sendiri, Indonesia ini pada dasarnya masih berstatus setangah terjajah dan setengah feodal. Persoalan status Indinesia yang masih semi feudal ini berkaitan sangat erta dengan konsep revolusi yang belum selesai yang telah menjadi persoalan yang menyelimuti Indonesia selama masa pemerintahan demokrasi parlementer dan yang dengan alasan-alasan yang cukup dapat dikatakan masih tetap berlanjut sampai pada saat itu. Sebagaimana dikatakan oleh Aidit.
            Indonesia adalah sebuah bangsa yang dikendalikan oleh baik sistem kapitalimsme maupun sistem feodalisme, meskipun tentu saja feodalisme yang murni 100% sudah tak ada lagi di sini. Akan tetapi sisa-sisa feodalisme yang terpenting dan palng serius masih ada di Indonesia sampai dengan saat ini. Hal ini dapat kita buktikan dengan berbagai fakta: pertama, masih tetap berlangsungnya hak-hak monopoli pada tuan-tuan tanah besar atas tuan-tuan tanah mereka yang dikerjakan oleh para petani yang merupakan sebagian terbesar orang yang tidak mungkin dapat memiliki tanah karenanya terpaksa harus menyewa tanah dari para tuan tanah dengan berbagai macam persyaratan: kedua, adanya sistem pembayaran sewa tanah dalam bentuk hasil-hasil panenan kepada para tuan tanah, di mana akibat-akibatnya menimbulkan sejumlah besar daripada sebagian besar kaum petani yang harus hidup dalam kemiskinan: ketiga, adanya sistem sewa tanah dalam bentuk melakukan pekerjaan pada tanah-tanah milik para tuan tanah yang telah menempatkan sebagian terbesar daripada kaum petani ada kedudukan seperti para budak. Terakhir, adanya penumpukan hutang yang demikian membebani sebagian besar kaum petani dan telah menempatkan mereka sebagai para budak milik para tuan tanah.10
 Kesimpulan
            Aidit memunculkan diri sebagai seseorang yang meskipun masih tetap mempertahankan dasar-dasar ideologi partainya yang sebenarnya, namun ia demikian menyadari situasi politik di dalam negeri. Baginya, keharusan untuk melakukan kompromi adalah bukan suatu permasalahan yang serius. Ia bahkan lebih melihatnya sebagai hanya  sebuah penyesuaian ideologi marxisme-leninisme dengan situasi di Indonesia.
….menerapkan prinsip-prinsip marxisme leninsme dalam keadaan yang nyata di negara kita, atau dengan kata lain melakukan Indonesianisasi terhadap marxisme leninsme, dan dengan berpijak pada landasan tersebut akan ditentukan secara kreatif bentuk kebijakan dan taktik perjuangan dan bentuk organisasi partai kita…11
            Catatan Akhir
1 Mahasiswa Jurusan Sejarah angkatan 2009
2 Mortimer, Rex, Indonesian Communism Under Sukarno: Ideologi dan Politik 1959-1965 (Pustaka Pelajar: Yogyakarta 2011), hlm ix
3 Aidit, Murad, Aidit Sang Legenda (Pata Rei: Jakarta 2006), hlm 4
4 Leclerc, Jaques, Mencari Kiri (Marjin Kiri: Jakarta 2011), hlm 107
5 Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 1999), hlm 5
6 McVey, Ruth, Kemunculan Komunisme Indonesia (Komunitas Bambu: Depok 2010), hlm 2
7 Edman, Peter, Komunisme Ala Aidit: Kisah PKI di Bawah Kepemimpinan D.N. Aidit 1950-1965 (Center for Information Analysy: Jakarta 2007), hlm 13
8 Lihat Edman, Ibid., hlm 15
9 Lihat Aidit, “The Road..’, hal. 164.
10 Lihat Aidit, Hari Depan Gerakan Tani Indonesia dalam Pilihan Tulisan Aidit Jilid 1, hlm 157
11 Lihat Aidit, Berani, Berani, Berani, Sekali Lagi Berani, hlm 85

Daftar Pustaka

Mortimer, Rex. 2011. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideologi dan Politik 1959-1965. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Leclerc, Jaques. 2011. Mencari Kiri: Kaum Revolusioner Indonesia dan Revolusi Mereka. Jakarta: Marjin Kiri
Edman, Peter. 2007. Komunisme Ala Aidit: Kisah PKI di Bawah Kepemimpinan D.N. Aidit 1950-1965. Jakarta: Center for Information Analys
Aidit, D.N. 1959. Pilihan Tulisan Aidit Jilid I. Jakarta: Jajasan Pembaruan
Aidit, D.N. 1959. Pilihan Tulisan Aidit Jilid II. Jakarta: Jajasan Pembaruan
Aidit, D.N. 1959. Pilihan Tulisan Aidit Jilid III. Jakarta: Jajasan Pembaruan


Tanah, Air, dan Masyarakat Asia Tenggara*


Sebuah Tinjauan Ulang Tulisan Anthony Reid Menyoal Kesejahteraan Fisik
Satriono Priyo Utomo** 
 
Pernah dalam salah satu karya Tetralogi Pulau Buru, Pram menulis, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.” Ini kalimat sebetulnya ingin menunjukan bahwa masyarakat kita (Asia Tenggara) ialah masyarakat pekerja keras dan gigih. Menjelaskan bahwa bentuk peradaban paling tinggi sesungguhnya terdapat pada masyarakat Asia Tenggara. Yang terlihat pada cara mereka mengolah tanah dan menjadikannya lahan-lahan pertanian.  Hal itu menunjukan bukan saja salah satu hal kegiatan bertahan hidup, tetapi proses manusia mengenal alamnya guna menemukan makna sosial.

Tetapi, masyarakat Asia Tenggara tidaklah hidup sendiri. Dia hidup dikelilingi oleh komunitas di sekitarnya. Sampai kemudian beberapa peneliti mengungkapkan bahwa komunitas Asia Tenggara ialah masyarakat yang pasif. Hal ini ditandai dengan proses indianisasi, islamisasi, dan kolonialisasi. Yang mewarnai dialektika kehidupan komunitas Asia Tenggara.

Istilah sebagai komunitas yang pasif ini sebelumnya pernah diingatkan oleh sejarawan kelahiran Selandia Baru yaitu Anthony Reid. Dalam penjelasannya Reid berkata bahwa karena iklimnya lunak dan makanan pokoknya beras, ikan, serta buah-buahan tersedia secara lebih pasti dibandingkan dengan sebagian besar dunia lainnya. Maka orang Asia Tenggara mempunyai keuntungan alamiah untuk bebas dari perjuangan terus-menerus untuk bertahan hidup.

Jelas, pada pernyataan ini kemudian, kita dapat menemukan alasan. Kedatangan bangsa lain ke Asia Tenggara bukan tidak mungkin motif utamanya ialah untuk mendapatkan sumber makanan yang melimpah. Serta pada fase kemudian dalam kolonialisasi. Bangsa-bangsa eropa ingin mendapatkan tenaga-tenaga masyarakat Asia Tenggara yang sebagian besar tidak terpakai. Karena iklimnya yang sudah memanjakan masyarakatnya dengan limpahan sumber bahan makanan.

Untuk itu, tulisan ini sebetulnya ingin menerangkan. Sebab atau asal muasal lahirnya proses kolonialisasi. Yang lebih menitik beratkan pada penjelasan tentang kondisi material di Asia Tenggara. Melalui salah satu Artikel Anthony Reid berjudul Kesejahteraan Fisik yang terdapat dalam bukunya berjudul, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin.

Tanah dan Makanan Asia Tenggara

Konsep sebagai sebuah wilayah yang disebut Asia Tenggara, memang baru lahir ketika Perang Dunia II. Dimana wilayah yang ada di dalamnya yaitu Indo-China, Malaya, dan Hindia Timur. Dikategorikan berikilim tropis, dikarenakan melewati garis khatulistiwa. Dengan iklim yang seperti ini, dapat dikatakan, matahari sangat bersahabat guna memberikan sumber makanan bagi makhluk seisinya.

Oleh karenanya, Reid mencatat betul bahwa beras merupakan makanan dan hasil bumi paling pokok di Asia Tenggara. Dengan kondisi iklim ini, selain beras yang dapat dihasilkan dari tanah Asia Tenggara. Bahan makanan pokok lainnya seperti talas, ubi, sagu, dan sejenis gandum. Menurut Reid, kiranya telah mendahului padi, hal ini ditemukan di gugus kepulauan Asia Tenggara.

Tentu, tanaman-tanaman tersebut tadi tidak hadir begitu saja tanpa campur tangan masyarakat Asia Tenggara. Yang dikenal pekerja keras dilihat dari hasil olah kerjanya. Meskipun sagu, secara alamiah tumbuh di hutan-hutan kepulauan Asia Tenggara: Kepulauan Aru, Buton, dan Selayar.

Reid kemudian menjelaskan, pada abad ke-16, ada tiga jenis cara menanam padi yang dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara: pertanian berpindah pada lereng-lereng rendah, menyebar benih di ladang yang tergenang, dan menanam kembali benih di sawah. Hal ini dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara karena pengetahuan teknis yang dimiliki oleh Asia Tenggara. Dan Boserup memberikan pendapat bahwa ketiga cara ini sering dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara dalam penduduk yang sama.

Pendapat itu kemudian mesti dilihat pada bahwa peralihan dari pertanian berpindah yang meluas ke persawahan yang lebih intensif terjadi karena tekanan penduduk. Reid menjelaskan hal itu terjadi karena rendahnya rasio antara manusia dan tanah di Asia Tenggara pada waktu itu secara teoritis akan memungkinkan semua orang hidup dari pertanian berpindah. Kemudian Reid memaparkan bahwa irigasi persawahan berlaku di daerah Kyaukse, Birma, dan di Jawa bagian timur setidak-tidaknya dari abad ke-18.

Hal itu kemudian akan membawa kita pada penjelasan yang khas untuk masyarakat Asia Tenggara yaitu cara pertanian justru terutama ditentukan oleh keadaan fisik tiap daerah, baru setelah itu ditentukan oleh tekanan penduduk. Meskipun penggunaan tanah di Asia Tenggara selalu kesulitan menemukan tenaga kerja. Kurangnya tenaga kerja dibandingkan dengan tanah, kemudian menimbulkan pola sosial patriarkal yang manusianya, bukan tanah, menjadi sasaran persaingan antar penguasa di Asia Tenggara. (Reid 1992)

Syahdan, dari jenis pertanian tersebut beras menjadi sangat dominan sebagai bahan makanan pokok masyarakat Asia Tenggara yang juga dijadikan sebagai sumber kalori. Dua bahan utama lainnya yang juga menjadi makanan dan banyak diperdagangkan ialah garam dan ikan. Yang banyak diproduksi oleh masyarakat kepulauan dan pesisir Asia Tenggara.

Penduduk pantai umumnya tahu betul cara membuat garam. Reid mengutip Galvao memaparkan bahwa orang maluku membuatnya dengan menuangkan air laut ke unggunan api di pantai, kemudian merebus lagi abunya dengan air laut. Sedangkan di daerah lain, yang memiliki musim kemarau panjang. Bertani garam dengan cara membiarkan matahari mengeringkan air laut, yang sudah di petak-petakan di tepi pantai. Ini terdapat di wilayah sepanjang pantai utara Jawa Timur, seperti di pelabuhan juwana dan Surabaya. (Reid 1992)

Ini kemudian mencirikan kreatifitas dari masyarakat Asia Tenggara. Selain tanahnya yang dilimpahi sumber makanan yang masif. Asia Tenggara juga dilimpahi dengan beragamnya hasil ikan. Beberapa penjelajah seperi Marco Polo dan Cheng Ho, mengamini bahwa Asia Tenggara dilimpahi dengan ikan. Sampai-sampai di Melaka dan Champa, penangkapan ikan dikatakan sebagai pekerjaan utama kaum pria, jauh di atas pertanian. Alhasil, Loarca (1582), pernah menyatakan bahwa penduduk pegunungan tidak bisa hidup tanpa ikan, garam, dan bahan makanan lainnya dari daerah-daerah lain. Begitu juga penduduk pantai tidak bisa hidup tanpa beras dan kapas dari penduduk pedalaman. Hal ini selain mencerminkan adanya simbiosis mutualisme antara penduduk pesisir dengan pedalaman. Juga menyatakan ada interaksi aktif, antara mereka, sehingga makanan menjadi medium sosial masyarakat Asia Tenggara.

Selain beras, ikan dan garam. Tanah Asia Tenggara juga menghasilkan sayuran dan rempah-rempah. Meskipun sumber-sumber asing tidak begitu banyak melaporkan tentang melimpahnya sayur-mayur dibandingkan dengan rempah-rempah dan buah-buahan. Melalui sayur-mayur dan rempah-rempah inilah kemudian medium interaksi sosial meluas. Banyaknya ekspedisi yang dilakukan baik penjelajah dari Cina maupun bangsa lainnya.

Bagi penjelajah Cina, lebih mengutamakan bisa memiliki sayur-mayur dan buah-buahan dari Asia Tenggara. Seperti: timun, bawang, jahe, buah persik, buah prem, dan buah lika. Mengisi padat kapal-kapal penjelajh Cina seperti Cheng Ho. Sedangkan bangsa Eropa lebih mengincar hasil rempah-rempah Asia Tenggara.

Orang Eropa dan Cina sama-sama terkesan oleh keragaman, dan kegemaran berlebihan dalam menikmati buah-buahan Asia Tenggara, akibatnya banyak membuat orang-orang itu terserang penyakit. Untu masyarakat Asia Tenggara sendiri, kelapa, pepaya merupakan sumber makanan utama. Mangga dipakai menjadi asinan sebagai teman menyantap nasi.

Selain itu, Asia Tenggara juga dilimpahi dengan daging hewan. Tetapi di Asia Tenggara makan daging selalu bermakna ritus karena erat kaitannya dengan upacara pengorbanan masyarakat Asia Tenggara kepada alamnya. Sifat sebagai pengorbanan ini paling terlihat jika animisme tidak begitu memberi tempat pada agama-agama dunia yang baru, sehingga roh-roh orang mati bisa diundang ramai-ramai untuk berpesta. Tetapi di pusat-pusat agama islam pun, kebiasaan makan daging yang menyertai upacara-upacara keagamaan yang penting, khususnya penguburan dan perkawinan, masih mengandung kesan-kesan pengorbanan hewan untuk para leluhur.

Di abad ke-16, orang Makassar di Sulawesi sebuah kepulauan di Hindia Timur, terkenal menolak islam karena babi merupakan sumber makanan mereka. Menurut kronik setempat, ketika distrik itu diajak menerima islam pada abad ke-17 oleh raja Makassar dengan ancaman perang jika menolak, seorang penguasa terkemuka berkata dengan menantang bahwa dia tidak akan memeluk islam meskipun sungai dipenuhi darah.

Artinya, memakan hewan dipandang sebagai sebuah hal yang mewah di Asia Tenggara. Seperti yang dilakukan oleh Raja Birma, Shembuan mengeluarkan pengumuman larangan membunuh hewan. Meski orang Birma dan Thai pada abad ke-19 kurang makan daging, itu karena ritus seperti penguburan dan perkawinan sudah menjadi urusan biarawan Budha.

Sumber Minum

Di daerah-daerah perbukitan, air bersih sering mengalir dari gunung, dan aliran ini bisa di bawa ke rumah-rumah dengan pipa bambu. Rumah-rumah di Brunei saja, yang dibangun tidak jauh dari laut tapi dekat dengan sumber-sumber air dari perbukitan sebelahnya, bisa menikmati air gunung. Tapi masih banyak juga masyarakat Asia Tenggara yang tidak bisa menikmati air pegunung seperti masyarakat pesisir, sehingga mesti mengambil air sungai.

Kemudian melalui sumber air ini, ada praktek khas yang dilakukan oleh Asia Tenggara dalam menghormati air. Kebiasaan mencampur air dengan limun, kayu manis, buah pala, tapi praktik ini tidak berguna untuk membunuh bakteri. Masyarakat Asia Tenggara hanya memakainya untuk dinikmati saja. Ada praktik lain, yaitu membiarkan air di dalam kendi, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Tujuannya akan lebih menjernihkan air agar enak pula rasanya. Terdapat bukti-bukti bahwa orang Asia Tenggara sudah mulai merebus air yang kotor, karena mengikuti orang Cina.

Kesimpulan

Lebatnya rimba Asia Tenggara, menjadikan masyarakatnya dilimpahi sumber makanan yang tak terhingga. Sehingga memaksa mereka bukan hanya bicara tentang bagaimana mengolahnya agar dapat bertahan hidup guna kehidupan masa depan. Melainkan mesti mempertahankannya dari keuntungan-keuntungan pribadi. Agar tetap makan dan minuman tersebut menjadi medium interaksi sosial masyarakat Asia Tenggara mengenal komunitasnya. Dari yang terkecil sampai bagian yang terbesar.

Terjadinya islamisasi, indianisasi, dan kolonisasi. Adalah nilai dari medium tersebut. Makanan dan minuman Asia Tenggara, banyak mengantarkan kita pada alasan-alasan mengapa Asia Tenggara hari ini menjadi bangsa yang miskin dan terbelakang. 

*Makalah Mata Kuliah Sejarah Asia Tenggara
**Mahasiswa Pendidikan Sejarah, UNJ

Sumber Bacaan
           Reid, Anthony. 1992. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I. Jakarta, YOI.
           Reid, Anthony. 1992. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid II. Jakarta, YOI.
 
 
 

Globalisasi dan Problematika Imigrasi di Eropa1




Satriono Priyo Utomo2

Abstrak: Salah satu tujuan dari globalisasi ialah mempertemukan seluruh umat manusia di dalam sebuah wadah kegiatan ekonomi bersama, yaitu produksi, distribusi dan konsumsi. Hal ini merupakan konsekuensi dari derasnya roda industri, akibat revolusi industri di eropa. Dengan kapitalisme sebagai perangkatnya. Melalui deregulasi, privatisasi, serta ekspolitasi. Arus industri ini membutuhkan tenaga kerja murah sebagai konsekuensinya. Dan praktik imigrasi niscaya representasi atas kebutuhan kapitalisme eropa. Selain sebagai wujud eksploitasi manusia atas manusia, imigrasi tidak ubahnya menjadi instrumen perluasan pasar atas produk kapitalisme eropa. Dan problem dari itu bukan sekadar pertentangan kelas sosial, lebih kompleks. Yaitu konflik ras, agama, dan suku.

Kata Kunci: Imigrasi, globalisasi, kapitalisme, industri, kelas, sosial, penduduk, wilayah, konflik.


Pendahuluan

            Dalam sejarah perkembangan masyarakat yang digambarkan oleh Karl Marx. Perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat yang lainnya bukanlah hal baru. Terkadang perpindahan tersebut diwarnai oleh penaklukan-penaklukan antar komunitas. Yang lebih terlihat dari perpindahan tersebut, utamanya ialah berubahnya cara produksi atau bertahan hidup suatu komunitas manusia.

            Cara produksi nomaden, berburu, bertani, dan berindustri. Merupakan hasil dari kebiasaan manusia yang telah berlangsung lama yaitu berpindah tempat. Namun di era kekinian, fenomena perpindahan tempat (migrasi) sebetulnya tidak jauh berbeda. Tetapi, menemukan bentuk lain, baik dari segi motif, skala, jarak maupun akibat yang ditimbulkannya. Tidak seperti di masa lalu dimana migrasi kebanyakan terjadi di dalam satu wilayah komunitas kecil.

Migrasi sekarang ini sudah melintasi batas teritorial negara, bahkan benua. Globalisasi meniscayakan adanya hubungan yang sangat integral antara satu masyarakat dengan yang lain yang diakibatkan oleh semakin kaburnya hambatan-hambatan jarak dan informasi.3 Tentu hal ini merupakan efek dari industrialisasi di eropa, akibat semangat revolusi industri. Yang mempunyai dampak berubahnya sistem ekonomi, serta politik di eropa yang kemudian merambat pada dunia melalui kegiatan imperialisme dan kolonialismenya.

Efek politiknya sendiri di eropa ialah adanya Revolusi Perancis. Dimana penyebabnya ialah merebaknya berbagai macam gagasan-gagasan besar. Seperti liberalisme, demokrasi, sampai sosialisme. Tentu hal ini menjadi catatan besar bagi eropa. Sebab, konflik sosial tidak dapat dihindari oleh bangsa Eropa. Sekalipun mereka lebih banyak diuntungkannya atas pesatnya industrialisasi. Yang kemudian menjadikan bangsa-bangsa lain macam Asia dan Afrika. Sebagai sapi perah yang melulu ditindas dan dihisap olehnya.

Kekinian, Eropa mesti menerima dampak industrialisasi yang kemudian menghasilkan gagasan globalisasi. Yaitu, Eropa menjadi tempat tujuan imigrasi bagi bangsa-bangsa Asia maupun Afrika, baik muslim maupun bukan. Yang kalau kita ketahui, justru masyarakt Eropa mengisi wilayah-wilayah yang hari ini didominasi olehnya yaitu benua Amerika Utara dan Australia. Tapi nampaknya itu semua sudah berakhir sejak imperialisme dan kolonialisme secara kasat mata, sudah tidak ada di belahan bumi Asia dan Afrika. Yaitu ketika berakhirnya Perang Dunia II. Banyak orang-orang Afrika dan Asia mencari penghidupan di Eropa. Yang sebagian besar kedatangan mereka tidak lebih masih mempunyai ikatan kolonialisme.

Bahkan mereka yang telah menetap di kota-kota Eropa tetap mempertahankan mentalitas desa dan dilihat sebagai keterbelakangan oleh elit bisnis dan budaya di negara mereka tinggal. Orang-orang Maroko yang menetap di Belanda dan Belgia, misalnya, sebagian besar adalah orang Berber dari pegunungan Rif, bukan elite budaya Arab dari Casablanca, Rabat, atau Fez. Imigran ini datang ke Eropa untuk membangun rel kereta api, bekerja di tambang batu bara, pembersihan jalan, dan pekerjaan-pekerjaan yang orang Eropa tidak ingin lakukan. Kedua hal itu merupakan faktor yang “mendorong” dan “menarik” pengaruh imigrasi. Faktor yang “mendorong” adalah yang mendorong imigran untuk meninggalkan tanah airnya sedangkan faktor yang “menarik” adalah mereka yang menarik mereka untuk pergi ke negara yang berbeda. Eropa dan negara-negara liberal Barat lainnya mempunyai daya tarik yang kuat pada imigran. Namun, menghentikan imigrasi tidak mudah, itupun jika mungkin, karena hukum di negara-negara liberal Eropa yang menarik imigran itu sekaligus mencegah negara untuk menghentikan mereka datang atau, lalu kemudian, mendeportasi mereka.4

Untuk itu tulisan ini bertujuan guna menjelaskan dinamika globalisasi. Yang mengakibatkan timbulnya permasalahan imigrasi di eropa. Serta menjelaskan faktor penyebab masalah imigrasi itu muncul.

Genealogi Imigrasi di Eropa

            Pasca Perang Dunia II, Perancis, Belgia, dan Jerman mulai banyak menarik para pekerja asing untuk datang. Akibat derasnya ekonomi di negara-negara tersebut, menarik imigran, pertama dari negara-negara miskin Eropa. Inggris, Belanda, dan Italia menarik imigran dari bekas koloni mereka. Tuan rumah pemerintah Eropa menganggap migran ini menjadi pekerja tamu sementara seperti yang dilakukan banyak migran itu sendiri.

Krisis ekonomi yang terjadi awal tahun 1970 menyebabkan pembuat kebijakan Eropa untuk menyadari bahwa imigrasi tidak selalu merupakan fenomena positif. Banyak imigran tiba-tiba menganggur, tapi mereka tidak kembali ke negara asal mereka. Karena kekhawatiran tumbuh bahwa pekerja asing mencari tempat tinggal permanen, sekitar 1973 dan 1975, pemerintah Eropa Barat menerapkan sebuah upaya penghentian imigrasi, dengan memperkenalkan tindakan pembatasan untuk mencegah imigrasi dan menghentikan perekrutan tenaga kerja asing.

Tapi hal tersebut tidak menghentikan kegiatan imigrasi, dalam dekade-dekade yang telah berlalu sejak pemerintah masing-masing negara menghentikan imigrasi, makin banyak imigran yang datang ke Eropa daripada dekade sebelumnya. Memang, dengan melihat jumlah imigran di berbagai negara, akan sulit untuk menentukan seberapa jauh penutupan peluang imigrasi ini telah dilaksanakan dalam praktek. Di Belanda, misalnya, jumlah imigran Maroko dan Turki pertama dan generasi kedua telah meningkat hampir sepuluh kali lipat  sejak berhenti tahun 1974.5

Syahdan, banyak imigran dari Asia dan Afrika mengisi lapangan pekerjaan di Eropa. Bahkan sampai ada yang membuat nama kampung, seperti yang dilakukan oleh bangsa China. Dengan membuat nama Chinatown di setiap mereka menetap. Sebagai bukti eksistensi dirinya. Semakin banyak orang yang pindah dari sebuah kota atau desa tertentu, semakin besar kemungkinan tetangga mereka atau anak-anak tetangga mereka akan mengikuti jalan mereka. Dinamika imigrasi tersebut berarti bahwa seluruh generasi anak-anak di desa-desa dan kota-kota di Dunia Ketiga tumbuh dengan pengetahuan bahwa mereka cenderung untuk berimigrasi di masa depan, baik dengan menikahi sepupu atau dengan cara lain.

Banyak juga dari mereka para imigran yang menjadi warga negara di tempat dimana dia mencari pekerjaan. Macam imigran-imigran Asia dan Afrika yang berprofesi sebagai atlit sepakbola. Malah mereka menjadi andalan dari tim nasional dimana mereka bukan lahir di negara tersebut. Hanya mempunyai garis keturunan saja. Dan kemudian inilah yang melestarikan kegiatan imigrasi di Eropa, sampai mereka beranak pinak.

Globalisasi: Dampak atau Penyebab

Globalisasi mempercepat perpindahan barang dan jasa di seluruh dunia melalui perdagangan bebas. Perkembangan teknologi telekomunikasi dan transportasi tak pelak membuat masyarakat dunia menjadi lintas batas. Menurut Castle dan Miller, periode modern perpindahan manusia ditandai tidak hanya semakin tingginya angka migrasi manusia lintas batas negara, tetapi juga pertumbuhan signifikan migrasi dalam secara ekonomis, sosial, kultural, dan politik. Perdagangan dunia yang meniscayakan perpindahan modal, barang, dan jasa juga mengikutsertakan perpindahan manusia.

Kemajuan teknologi juga mengubah perilaku kaum imigran. Akses perjalanan telah mengubah perjalanan bulanan atau tahunan menjadi jam atau hari. Karena pesatnya kegiatan penerbangan. Telpon dan internet, menjadi sarana kaum imigran tetap bisa melakukan kontak dengan negara asalnya. Ia juga dapat kembali untuk liburan musim panas. Sedangkan imigran lain mesti mengasimilasikan budaya mereka dengan negara dimana dia tinggal. Bahkan atas alasan tertentu mereka mesti menjadi warga negara Eropa.

Tentu tidak banyak yang memandang globalisasi sebagai masalah dari imigrasi. Masalah imigrasi di Eropa sendiri menjadi sebuah isu baru memasuki tahun 1980-an, ketika terjadi resesi pada banyak negara industri menyebabkan tingginya angka pengangguran, instabilitas ekonomi dan politik. Pada saat itulah pemerintah baru menyadari bahwa mereka menanggung beban tingginya angka pengangguran yang menimpa baik masyarakat asli maupun pendatang. Masyarakat asli cenderung menyalahkan migran, karena dianggap mengambil peluang kerja mereka. Kondisi ini seperti memberikan daya dorong bagi munculnya sentimen anti imigran dan xenophobia yang diusung kelompok-kelompok rasis Neo Nazi di Jerman dan Austria, Sayap Kanan di Inggris, dan kebijakan anti migran oleh pemerintah Perancis.

            Kekinian hal itu mencuat lagi, peristiwa peledakan bom di kota Oslo dan penembakan di Pulau Utoya pertengahan tahun. Yang memakan jumlah korban sekitar 93 orang yang kebanyakan adalah pemuda, membuat Norwegia sebagai negara teraman di dunia tercoreng reputasinya. Pemerintah setempat langsung beranggapan ini merupakan masalah dari imigrasi. Begitupun yang terjadi di Inggris dan Perancis. Dimana seorang tentaranya setelah habis dinas ke Asia, dibunuh oleh oknum yang kemudian diketahui seorang imigran dari Asia.

            Isu-isu perbatasan yang terbuka dan imigrasi sekarang banyak menjadi bagian dari krisis Eropa hari-hari ini, yang mencakup keraguan atas masa depan keuangan zona euro. Partai-partai ekstrem kanan Skandinavia telah menentang bail-out keuangan Uni Eropa untuk anggota yang lebih lemah seperti Yunani dan Portugal. Penentangan itu menjadi sebuah ancaman nyata saat transaksi itu harus memperoleh persetujuan secara bulat di antara 27 anggota Uni Eropa. Harian konservatif Jerman, Die Welt, pada Mei, secara tepat melaporkan hal itu dengan menulis, "Perbatasan terbuka atau mata uang bersama tidak menyebabkan negara-negara (anggota Uni Eropa) menjadi merata pertumbuhannya. Sebaliknya, negara-negara itu berkeras untuk mempertahankan karakteristik nasional mereka."6

Kesimpulan

            Fenomena kegiatan perpindahan penduduk yang terjadi di eropa serta masalah yang ditumbulkannya kekinian. Kini malah diwarnai sentimen konflik fundamentalisme. Adanya pertentangan soal multikulturalisme dan gagasan bangsa Eropa sebagai sebuah ras yang unggul. Sentimen ini berasal dari kesaksian pelaku bom di Oslo.
            Dan akibat dari kegiatan imigrasi di Inggris, Perancis, yang menyebabkan terbunuhnya tentara dua negara tersebut. Munculah sentimen antiislam, yang kemudian diperparah dengan semangat perang salib. Menjadi paradigma yang diterima oleh orang eropa kebanyakan di hari ini.
            Kegiatan imigrasi melibatkan dua kebudayaan yang berbeda. Perasaan saling curiga seringkali mewarnai keduanya. Konflik ini tentu dapat dilihat sebagai buah globalisasi. Yang digadang-gadang dapat mempersatukan umat manusia yang berbeda. Ternyata globalisasi pun tidak dapat menyembuhkan perbedaan. Malah makin memperlebar jurang konflik akibat pengangguran dan kemiskinan. Serta distribusi kekayaan yang tidak merata. Dan itu ada di Eropa sampai hari ini.

 

1   Esai tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Sejarah Eropa Modern
2   Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta
3 Artikel Ahmad Muhammad, “Globalisasi dan Migrasi: Problematika Integrasi Imigran Turki ke dalam Masyarakat Jerman”, ahmad_m-fisip11.web.unair.ac.id
4  Terjemahan Artikel Esther Ben-David, “Europe’s Shifting Immigration Dynamic”, dalam Middle East Quarterly, Spring 2009, fleepzfloopz.blog.com
5  idem
6  Sumber CNN, Editor Edigius Patnitik, Kompas.com
 
 Bacaan Pendukung

Franz Magnis Suseno, Peta Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Anderson, Benedict, Imagined Communities. Jogjakarta: Insistpress, 2009.