Aidit dan Marxisme
Marxisme atau
Marxisme-Leninsme adalah pedoman untuk beraksi, jadi tidak ada persamaannya
dengan tumpukan-tumpukan mantra atau jampi yang dapat mengobati segala macam
penyakit. Marxisme baru ada gunanya jika diterapkan secara kreatif. Aidit
(1964: 115)
Pendahuluan
Jika ada
suasana yang tepat dalam menggambarkan dunia akademik sejarah pemikiran di
Indonesia tidak lain adalah pemandangan sunyi dan gelap. Meski berpenghuni,
seolah-olah wilayah sejarah pemikiran di Indonesia tidak bertuan. Artinya ada
yang hidup tapi tidak ada makna dari kehidupan tersebut. Tidak ada sesuatu hal
yang patut untuk dipijak.
Sejarawan
terlalu sibuk untuk menebalkan definisi bahwa sejarah hanya milik para
pemenang: siapa yang pantas menjadi pahlawan, peristiwa mana saja yang mesti
diakui dan harus diajarkan di sekolah. Mereka seolah lupa, tugas penelusuran
ruang dan waktu adalah menegakan kemanusiaan. Dimana Kuntowijoyo pernah menyebut,
mereka di antaranya menafikan kesadaran manusia.
Di
Barat, Bertrand Russel mampu merangkum pemikiran dari zaman kuno hingga
kontemporer. Di Timur, sarjana-sarjana sejarah India dan Tiongkok sudah
memposisikan para Bapak Bangsa sebagai pemikir. Dimana Sun Yat Sen dan Gandhi
tidak hanya dilihat dari kegiatan politiknya. Karya San Min Chu I menjadi bacaan wajib sekolah menengah di Tiongkok.
Indonesia mau tidak mau harus mengakui ketertinggalannya.
Bukan karena
masih terbukanya perdebatan untuk memposisikan Sukarno sebagai politikus atau
pemikir atas Karya Legge dan Dahm. Bukan
juga sibuk memberikan identitas pada Tan Malaka apakah dia itu komunis atau
bukan. Yang jelas ketertinggalan sejarah pemikiran kita terletak pada apakah
kita mau berpikir adil dan bijak dalam mempelajari sejarah.
Termasuk dalam
menimbang dan memposisikan ulang bagaimana peran Partai Komunis Indonesia (PKI)
dalam mewarnai catatan sejarah kita. Dimana masih penuh dengan stigma. Termasuk
pula dengan para tokoh-tokoh partai yang pada tahun 1955 itu menduduki posisi
empat besar dalam pentas pemilu pertama republik ini berdiri. Salah satunya
adalah Aidit.
Berbicara
sejarah Indonesia mestinya berbicara tentang PKI. Harus diakui bahwa PKI
merupakan organisasi sentral dalam membangun dinamika sosial-politik di
Indonesia, khususnya sejak masa pergerakan kemerdekaan. Karena pengaruhnya
tidak hanya dalam ranah realitas sosial masyarakat kita waktu itu, juga
terhadap semangat ilmiah PKI sebagai organisasi yang membacakan sejarah, juga
menciptakan teori sejarah itu sendiri.
Meski
literasi sejarah kita diwarnai sikap-sikap akademik yang penuh gairah. Dimana
Hindley dan Mc Vey mendasarkan pada kekaguman tentang kualitas para pemimpin
PKI dan kader-kadernya itu, tentang kemampuan mereka berpolitik, tentang
perhatian mereka yang sangat besar bagi kepentingan para pekerja, buruh pabrik,
petani miskin dan buruh tani, tentang asesmen realistik terhadap situasi dan
kondisi para pekerja tersebut, dan akhirnya, tentang relatif bersihnya mereka
dari noda korupsi.2 Tapi tidak sedikit pun dari itu semua yang
mendapat tempat bagi orang Indonesia sendiri. Untuk memposisikan ulang
keberadaan PKI dan tokoh-tokohnya yang sesungguhnya mempunyai gagasan pemikiran
cemerlang serta tradisi intelektual yang patut untuk diambil sebagai pijakan
langkah ke depan.
Atas dasar
itu penulis ingin mencoba melihat kembali periodesasi tumbuhnya PKI setelah
peristiwa 1948. Peran partai dan kehadiran gagasan pemimpinnya yaitu Aidit.
Dimana sangat minim sekali literasi yang menjelaskan gagasan marxisme
diterjemahkan dan dilaksanakan oleh pegiat organisasi yang mendasarkan
partainya berdasar pada klasifikasi marxisme-leninsme tersebut.
Kemunculan Aidit
Kelak,
keterlibatannya sebagai orang yang berpengaruh dalam PKI memang sudah ada sejak
usia remaja. Achmad Aidit yang lahir pada 30 Juli 1923 di Belitung.3
Semasa remajanya dihabiskan di Belitung, dengan menyaksikan nasib buruh kecil
di perusahaan tambang timah tempatnya lahir.
Di Belitung
Aidit bersekolah HIS. Kemudian pada tahun 1936-1938, atas permintaannya sendiri
kepada ayahnya, dia diantar oleh pamannya ke Jakarta. Di Jakarta, selesai dari
HIS, Aidit menempuh Sekolah Dagang Menengah. Di sinilah dia kemudian terlibat
dalam pergerakan pemuda hingga memperoleh kesempatan dengan Barisan Pemuda
Gerindo yang dipimpin Wikana dan dengan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia
yang diketuai Chaerul Saleh.
Waktu itu,
dia meminta ayahnya untuk menyetujui pengubahan namanya menjadi Dipa Nusantara,
dengan tetap mencantumkan nama ayahnya. Permintaan itu dikabulkan. Nama Dipa
Nusantara itu untuk menghormati perjuangan pahlawan Dipenogoro dan agar memberi
inspirasi pada Aidit dalam usahanya membebaskan nusantara.4
Semasa hidup di Jakarta, Aidit harus mencari
makan sendiri dengan menjual buku. Pekerjaan inilah yang kemudian memberikan
dia kesempatan untuk membaca. Dia menjadi pemuda yang haus pengetahuan. Dimana
tak puas-puasnya “menelan” buku-buku dan gemar mendirikan
perpustakaan-perpustakaan kecil.
Semasa
penjajahan Jepang, Aidit menggabungkan diri bersama anak-anak muda di sekitar
Sukarno dan Hatta. Saat itulah dia rajin menghadiri sekolah-sekolah politik
dimana diisi oleh ceramah dari berbagai tokoh pergerakan masa itu. Di kalangan pemuda sekitar Hatta itulah Aidit
bertemu dengan Lukman.
Pada 1944
Aidit mulai bekerja di kantor karisidenan Jatinegara. Bersama Lukman kemudian
dia dipilih oleh Bung Karno ikut Barisan Pelopor Istimewa, yaitu kelompok yang
terdiri dari seratus orang pejuang yang dianggap terdekat dan paling setia.
Mereka sama-sama terlibat dalam gerakan yang pada 1945 bermarkas di Menteng
Raya 31. Bersama Lukman pulalah Aidit memiliki kontak dengan tokoh-tokoh PKI
macam Widarta dan kemudian Alimin kelak yang menjadi guru politiknya. Berkat
bimbingan Alimin, Aidit menjadi pimpinan pada jurnal ilmiah milik PKI bernama Bintang Merah. Dia sudah menulis
beberapa brosur pendidikan Marxis dan kemudian diangkat menjadi anggota Central
Comite untuk bagian pendidikan/penerangan (agitprop), dibantu oleh Lukman. Dan
oleh Jusuf ia dipinjami satu eksemplar buku karangan Karl Marx, Das Kapital.
Pengaruh
Aidit sebagai seorang teoritisi utama dalam perumusan kebijakan dan
langkah-langkah partai setelah tahun 1950. Berperan sangat vital terhadap
penentuan arah kebijakan yang diambil oleh partai. Dari sini secara tidak
langsung berpengaruh pada keberhasilan partai dalam melipatgandakan jumlah
anggotanya dan meningkatkan pengaruhnya.
Mengindonesiakan Marxisme
Sesungguhnya
marxisme tidak sama dengan komunisme. Komunisme yang juga disebut komunisme
internasional adalah nama gerakan kaum komunis. Komunisme merupakan gerakan dan
kekuatan politik dari partai-partai komunis yang sejak Revolusi Oktober 1917 di
bawah pimpinan Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional.
Istilah komunisme juga sering dipakai untuk ajaran komunisme atau
marxisme-leninisme yang merupakan ajaran atau ideology komunisme. Jadi,
marxisme menjadi salah satu komponen dalam sistem ideologi komunisme. Istilah
marxisme sendiri adalah sebutan bagi pembakuan ajaran resmi Karl Marx yang
terutama dilakukan oleh temannya Friedrich Engels (1820-1895) dan oleh tokoh
teori Marxis Karl Kautsky (1854-1938).5 Inti dari marxisme ialah
revolusi proletariat yang diekspresikan di bidang teori.
Di Indonesia
sendiri, keyakinan bahwa kaum kolonial memainkan peran penting dalam menopang sistem
kapitalis bukan merupakan bagian asli pandangan marxis. Tradisi yang diusung
kaum sosialis revolusioner Eropa tidak hanya cenderung mengabaikan masalah umum
penjajahan tapi juga lebih jauh lagi menyangkal bahwa kaum komunis mengambil
peran di wilayah terbelakang di seluruh dunia.
Dengan
demikian persoalan tanah jajahan tidak begitu penting dalam pemikiran Marxis.
Hal itu berlangsung sampai beberapa tahun setelah meninggalnya Karl Marx, para
pengikut Marx mulai mengintepretasikan ulang sistem yang telah ia letakkan guna
memberikan peran lebih penting bagi negara-negara timur. Penafsiran ulang itu
perlu dilakukan karena kemakmuran masyarakat negara-negara kapitalis yang belum
pernah terjadi sebelumnya mereka nikmati pada peralihan abad. Marx
menggambarkan masa depan Eropa akan mengalami krisis ekonomi yang mendalam dan
meningkatkan kesengsaraan kaum proletar. Tetapi dalam kenyataannya
negara-negara kapitalis menjadi lebih makmur dari sebelumnya, dan bahkan yang
lebih mengejutkan bagi kaum revolusioner posisi sosial ekonomi kelas buruh
meningkat tajam. Dengan demikian jelas dalil Marx dalam hal ini keliru, sistem
yang telah diletakkannya diabaikan atau ditafsirkan ulang guna menjelaskan
perkembangan baru.6
Ini pula
yang kelak akan dilakukan oleh tokoh-tokoh komunisme yang cenderung bisa
dilihat sebagai pengkritis dan pemberharu marxisme Indonesia seperti Tan Malaka
dan Aidit. Meskipun untuk pertama kalinya organisasi komunis formal di
Indonesia tidak pernah ada sampai didirikannya Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) di bawah
kepemimpinan Sneevliet pada tahun 1914, walau sesungguhnya masyarakat Indonesia
sejak berabad-abad sebelumnya telah memiliki berbagai aspek yang dipandang
sebagai sifat-sifat yang komunistik. Termasuk dalam hal ini adalah
penyelenggaraan gotong royong oleh para penduduk di wilayah-wilayah pedesaan.
Dalam gotong royong ini setiap penduduk bertanggung jawab
dalam pemeliharaan desa-desa mereka agar tetap pada kondisi yang wajar;
struktur social dalam masyarakat Indonesia, dalam hal ini keberadaaan
aliran-aliran dalam masyarakat, telah menghambat keberadaan kelas-kelas social
di sepanjang garis-garis pemilah sosial yang horizontal; dan konsep kepemilikan
tanah secara bersama (communal
landholding) yang sesungguhnya telah ada sejak masa sebelum lahirnya
kekuasaan feodal maupun kekuasaan kapitalistik ternyata dapat bertahan dan
tidak tergoyahkan di berbagai wilayah pedesaan di Indonesia.7
Konsep-konsep tradisional ini hidup berdampingan dan memainkan peranan yang
amat penting dalam langkah-langkah memodifikasi marxisme yang sesungguhnya
berasal dari Eropa menjadi sebuah varian marxisme yang khas Indonesia yang
memiliki berbagai ciri khas khusus pribumi.
Kenyataannya
memang terdapat sejumlah varian dalam marxisme di Asia yang membuatnya berbeda
dengan versi aslinya dari Eropa. Perbedaan yang paling mendasar ialah dalam hal
konsep. Hal penting lainnya adalah bahwa marxisme di Eropa memperlihatkan sikap
ketidaksabaran terhadap tradisi, terhadap sifat-sifat khas sebuah kebudayaan,
sikap-sikap akomodatif terhadap alam dan keberagaman dan sebagainya.
Marxisme
Asia berpandangan bahwa masyarakat industri adalah masyarakat yang penuh
pengistimewaan dan bahwa dunia politik akan sangat menguasai kehidupan
perekonomian. Bagi kaum marxis di Asia, masa depan dipahami dalam pengertian
wilayah pedesaan yang berhasil direvitalisasi dan ditransformasikan dengan cara
menyerap ke dalam dirinya segala hal yang positif dalam penemuan-penemuan
terbaru di bidang teknologi, namun pada saat yang sama juga dilakukan
pengendalian secara ketat terhadap cakupan dan sifat-sifatnya agar ia dapat
dipergunakan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang bersifat egalitarian,
partisipatoris dan pembebasan.8 Hal ini kemudian akan membawa
pengaruh bagi pandangan marxisme di Indonesia. Belakangan ketika PKI berada di
bawah kepemimpinan Aidit, masyarakat petani ini menjadi sasaran utama kegiatan
partai. Dalam permasalahan ini Aidit berpendapat bahwa pembangunan sebuah basis
massa bagi partai sebagai sesuatu hal yang paling penting.
Gagasan Besar Aidit
Bagi Aidit sendiri marxisme di Indonesia
mempunyai tujuan “…menghilangkan sisa-sisa feodalisme, membangun sebuah
revolusi agraria yang anti feudal, melakukan penyitaan atas tanah milik para
tuan tanah dan membagikannya secara gratis kepada para petani, terutama bagi
para petani yang tak memiliki tanah dan miskin, dan akan menjadi milik mereka
sendiri… Ini adalah landasan di mana akan diciptakan aliansi anatara kaum buruh
dan petani tersebut sebagai basis bagi sebuah front nasional bersatu yang
kuat…”9 Aidit menekankan bahwa sebenarnya rakyat tidak menginginkan
teori-teori marxisme-leninisme. Sebaliknya mereka justru menginginkan
perbaikan-perbaikan dalam banyak hal dalam kehidupan mereka.
Landasan
yang dijadikan pijakan oleh berbagai teoritisasi Aidit tentang masalah land reform ini adalah anggapannya bahwa
meskipun telah berhasil memiliki kedaulatan sendiri, Indonesia ini pada
dasarnya masih berstatus setangah terjajah dan setengah feodal. Persoalan
status Indinesia yang masih semi feudal ini berkaitan sangat erta dengan konsep
revolusi yang belum selesai yang telah menjadi persoalan yang menyelimuti
Indonesia selama masa pemerintahan demokrasi parlementer dan yang dengan alasan-alasan
yang cukup dapat dikatakan masih tetap berlanjut sampai pada saat itu.
Sebagaimana dikatakan oleh Aidit.
Indonesia adalah sebuah bangsa yang
dikendalikan oleh baik sistem kapitalimsme maupun sistem feodalisme, meskipun
tentu saja feodalisme yang murni 100% sudah tak ada lagi di sini. Akan tetapi
sisa-sisa feodalisme yang terpenting dan palng serius masih ada di Indonesia
sampai dengan saat ini. Hal ini dapat kita buktikan dengan berbagai fakta: pertama, masih tetap berlangsungnya
hak-hak monopoli pada tuan-tuan tanah besar atas tuan-tuan tanah mereka yang
dikerjakan oleh para petani yang merupakan sebagian terbesar orang yang tidak
mungkin dapat memiliki tanah karenanya terpaksa harus menyewa tanah dari para
tuan tanah dengan berbagai macam persyaratan: kedua, adanya sistem pembayaran sewa tanah dalam bentuk hasil-hasil
panenan kepada para tuan tanah, di mana akibat-akibatnya menimbulkan sejumlah
besar daripada sebagian besar kaum petani yang harus hidup dalam kemiskinan: ketiga, adanya sistem sewa tanah dalam
bentuk melakukan pekerjaan pada tanah-tanah milik para tuan tanah yang telah
menempatkan sebagian terbesar daripada kaum petani ada kedudukan seperti para
budak. Terakhir, adanya penumpukan
hutang yang demikian membebani sebagian besar kaum petani dan telah menempatkan
mereka sebagai para budak milik para tuan tanah.10
Kesimpulan
Aidit
memunculkan diri sebagai seseorang yang meskipun masih tetap mempertahankan
dasar-dasar ideologi partainya yang sebenarnya, namun ia demikian menyadari
situasi politik di dalam negeri. Baginya, keharusan untuk melakukan kompromi
adalah bukan suatu permasalahan yang serius. Ia bahkan lebih melihatnya sebagai
hanya sebuah penyesuaian ideologi marxisme-leninisme
dengan situasi di Indonesia.
….menerapkan prinsip-prinsip marxisme leninsme dalam keadaan yang nyata
di negara kita, atau dengan kata lain melakukan Indonesianisasi terhadap
marxisme leninsme, dan dengan berpijak pada landasan tersebut akan ditentukan
secara kreatif bentuk kebijakan dan taktik perjuangan dan bentuk organisasi
partai kita…11
Catatan Akhir
1
Mahasiswa Jurusan Sejarah angkatan 2009
2 Mortimer, Rex, Indonesian Communism
Under Sukarno: Ideologi dan Politik 1959-1965 (Pustaka Pelajar: Yogyakarta
2011), hlm ix
3
Aidit, Murad, Aidit Sang Legenda
(Pata Rei: Jakarta 2006), hlm 4
4
Leclerc, Jaques, Mencari Kiri (Marjin
Kiri: Jakarta 2011), hlm 107
5
Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx;
Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Gramedia Pustaka
Utama: Jakarta, 1999), hlm 5
6
McVey, Ruth, Kemunculan Komunisme
Indonesia (Komunitas Bambu: Depok 2010), hlm 2
7 Edman, Peter, Komunisme Ala Aidit:
Kisah PKI di Bawah Kepemimpinan D.N. Aidit 1950-1965 (Center for Information
Analysy: Jakarta 2007), hlm 13
8
Lihat Edman, Ibid., hlm 15
9
Lihat Aidit, “The Road..’, hal. 164.
10 Lihat Aidit, Hari Depan Gerakan
Tani Indonesia dalam Pilihan Tulisan
Aidit Jilid 1, hlm 157
11 Lihat Aidit, Berani, Berani,
Berani, Sekali Lagi Berani, hlm 85
Daftar Pustaka
Mortimer, Rex. 2011. Indonesian
Communism Under Sukarno: Ideologi dan Politik 1959-1965. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Leclerc, Jaques. 2011. Mencari
Kiri: Kaum Revolusioner Indonesia dan Revolusi Mereka. Jakarta: Marjin Kiri
Edman, Peter. 2007. Komunisme
Ala Aidit: Kisah PKI di Bawah Kepemimpinan D.N. Aidit 1950-1965. Jakarta:
Center for Information Analys
Aidit, D.N. 1959. Pilihan
Tulisan Aidit Jilid I. Jakarta: Jajasan Pembaruan
Aidit, D.N. 1959. Pilihan
Tulisan Aidit Jilid II. Jakarta: Jajasan Pembaruan
Aidit, D.N. 1959. Pilihan
Tulisan Aidit Jilid III. Jakarta: Jajasan Pembaruan
.png)

Menurut saya isi tulisan ini sangat menyemangati untuk berpikir kreatif, daripada otak nganggur kosong yang cuma memikirkan bagaimana dan apa besok masih bisa membeli makanan.
BalasHapus