Aidit dan Marxisme

03.32 1 Comments


Marxisme atau Marxisme-Leninsme adalah pedoman untuk beraksi, jadi tidak ada persamaannya dengan tumpukan-tumpukan mantra atau jampi yang dapat mengobati segala macam penyakit. Marxisme baru ada gunanya jika diterapkan secara kreatif. Aidit (1964: 115)

Pendahuluan

            Jika ada suasana yang tepat dalam menggambarkan dunia akademik sejarah pemikiran di Indonesia tidak lain adalah pemandangan sunyi dan gelap. Meski berpenghuni, seolah-olah wilayah sejarah pemikiran di Indonesia tidak bertuan. Artinya ada yang hidup tapi tidak ada makna dari kehidupan tersebut. Tidak ada sesuatu hal yang patut untuk dipijak.
            Sejarawan terlalu sibuk untuk menebalkan definisi bahwa sejarah hanya milik para pemenang: siapa yang pantas menjadi pahlawan, peristiwa mana saja yang mesti diakui dan harus diajarkan di sekolah. Mereka seolah lupa, tugas penelusuran ruang dan waktu adalah menegakan kemanusiaan. Dimana Kuntowijoyo pernah menyebut, mereka di antaranya menafikan kesadaran manusia.
              Di Barat, Bertrand Russel mampu merangkum pemikiran dari zaman kuno hingga kontemporer. Di Timur, sarjana-sarjana sejarah India dan Tiongkok sudah memposisikan para Bapak Bangsa sebagai pemikir. Dimana Sun Yat Sen dan Gandhi tidak hanya dilihat dari kegiatan politiknya. Karya San Min Chu I menjadi bacaan wajib sekolah menengah di Tiongkok. Indonesia mau tidak mau harus mengakui ketertinggalannya.
            Bukan karena masih terbukanya perdebatan untuk memposisikan Sukarno sebagai politikus atau pemikir atas Karya Legge dan Dahm.  Bukan juga sibuk memberikan identitas pada Tan Malaka apakah dia itu komunis atau bukan. Yang jelas ketertinggalan sejarah pemikiran kita terletak pada apakah kita mau berpikir adil dan bijak dalam mempelajari sejarah.
            Termasuk dalam menimbang dan memposisikan ulang bagaimana peran Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam mewarnai catatan sejarah kita. Dimana masih penuh dengan stigma. Termasuk pula dengan para tokoh-tokoh partai yang pada tahun 1955 itu menduduki posisi empat besar dalam pentas pemilu pertama republik ini berdiri. Salah satunya adalah Aidit.
            Berbicara sejarah Indonesia mestinya berbicara tentang PKI. Harus diakui bahwa PKI merupakan organisasi sentral dalam membangun dinamika sosial-politik di Indonesia, khususnya sejak masa pergerakan kemerdekaan. Karena pengaruhnya tidak hanya dalam ranah realitas sosial masyarakat kita waktu itu, juga terhadap semangat ilmiah PKI sebagai organisasi yang membacakan sejarah, juga menciptakan teori sejarah itu sendiri.
            Meski literasi sejarah kita diwarnai sikap-sikap akademik yang penuh gairah. Dimana Hindley dan Mc Vey mendasarkan pada kekaguman tentang kualitas para pemimpin PKI dan kader-kadernya itu, tentang kemampuan mereka berpolitik, tentang perhatian mereka yang sangat besar bagi kepentingan para pekerja, buruh pabrik, petani miskin dan buruh tani, tentang asesmen realistik terhadap situasi dan kondisi para pekerja tersebut, dan akhirnya, tentang relatif bersihnya mereka dari noda korupsi.2 Tapi tidak sedikit pun dari itu semua yang mendapat tempat bagi orang Indonesia sendiri. Untuk memposisikan ulang keberadaan PKI dan tokoh-tokohnya yang sesungguhnya mempunyai gagasan pemikiran cemerlang serta tradisi intelektual yang patut untuk diambil sebagai pijakan langkah ke depan.
            Atas dasar itu penulis ingin mencoba melihat kembali periodesasi tumbuhnya PKI setelah peristiwa 1948. Peran partai dan kehadiran gagasan pemimpinnya yaitu Aidit. Dimana sangat minim sekali literasi yang menjelaskan gagasan marxisme diterjemahkan dan dilaksanakan oleh pegiat organisasi yang mendasarkan partainya berdasar pada klasifikasi marxisme-leninsme tersebut.

            Kemunculan Aidit

            Kelak, keterlibatannya sebagai orang yang berpengaruh dalam PKI memang sudah ada sejak usia remaja. Achmad Aidit yang lahir pada 30 Juli 1923 di Belitung.3 Semasa remajanya dihabiskan di Belitung, dengan menyaksikan nasib buruh kecil di perusahaan tambang timah tempatnya lahir.
            Di Belitung Aidit bersekolah HIS. Kemudian pada tahun 1936-1938, atas permintaannya sendiri kepada ayahnya, dia diantar oleh pamannya ke Jakarta. Di Jakarta, selesai dari HIS, Aidit menempuh Sekolah Dagang Menengah. Di sinilah dia kemudian terlibat dalam pergerakan pemuda hingga memperoleh kesempatan dengan Barisan Pemuda Gerindo yang dipimpin Wikana dan dengan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang diketuai Chaerul Saleh.
            Waktu itu, dia meminta ayahnya untuk menyetujui pengubahan namanya menjadi Dipa Nusantara, dengan tetap mencantumkan nama ayahnya. Permintaan itu dikabulkan. Nama Dipa Nusantara itu untuk menghormati perjuangan pahlawan Dipenogoro dan agar memberi inspirasi pada Aidit dalam usahanya membebaskan nusantara.4
             Semasa hidup di Jakarta, Aidit harus mencari makan sendiri dengan menjual buku. Pekerjaan inilah yang kemudian memberikan dia kesempatan untuk membaca. Dia menjadi pemuda yang haus pengetahuan. Dimana tak puas-puasnya “menelan” buku-buku dan gemar mendirikan perpustakaan-perpustakaan kecil.
            Semasa penjajahan Jepang, Aidit menggabungkan diri bersama anak-anak muda di sekitar Sukarno dan Hatta. Saat itulah dia rajin menghadiri sekolah-sekolah politik dimana diisi oleh ceramah dari berbagai tokoh pergerakan masa itu.  Di kalangan pemuda sekitar Hatta itulah Aidit bertemu dengan Lukman.
            Pada 1944 Aidit mulai bekerja di kantor karisidenan Jatinegara. Bersama Lukman kemudian dia dipilih oleh Bung Karno ikut Barisan Pelopor Istimewa, yaitu kelompok yang terdiri dari seratus orang pejuang yang dianggap terdekat dan paling setia. Mereka sama-sama terlibat dalam gerakan yang pada 1945 bermarkas di Menteng Raya 31. Bersama Lukman pulalah Aidit memiliki kontak dengan tokoh-tokoh PKI macam Widarta dan kemudian Alimin kelak yang menjadi guru politiknya. Berkat bimbingan Alimin, Aidit menjadi pimpinan pada jurnal ilmiah milik PKI bernama Bintang Merah. Dia sudah menulis beberapa brosur pendidikan Marxis dan kemudian diangkat menjadi anggota Central Comite untuk bagian pendidikan/penerangan (agitprop), dibantu oleh Lukman. Dan oleh Jusuf ia dipinjami satu eksemplar buku karangan Karl Marx, Das Kapital.
            Pengaruh Aidit sebagai seorang teoritisi utama dalam perumusan kebijakan dan langkah-langkah partai setelah tahun 1950. Berperan sangat vital terhadap penentuan arah kebijakan yang diambil oleh partai. Dari sini secara tidak langsung berpengaruh pada keberhasilan partai dalam melipatgandakan jumlah anggotanya dan meningkatkan pengaruhnya.

Mengindonesiakan Marxisme

            Sesungguhnya marxisme tidak sama dengan komunisme. Komunisme yang juga disebut komunisme internasional adalah nama gerakan kaum komunis. Komunisme merupakan gerakan dan kekuatan politik dari partai-partai komunis yang sejak Revolusi Oktober 1917 di bawah pimpinan Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional. Istilah komunisme juga sering dipakai untuk ajaran komunisme atau marxisme-leninisme yang merupakan ajaran atau ideology komunisme. Jadi, marxisme menjadi salah satu komponen dalam sistem ideologi komunisme. Istilah marxisme sendiri adalah sebutan bagi pembakuan ajaran resmi Karl Marx yang terutama dilakukan oleh temannya Friedrich Engels (1820-1895) dan oleh tokoh teori Marxis Karl Kautsky (1854-1938).5 Inti dari marxisme ialah revolusi proletariat yang diekspresikan di bidang teori.
            Di Indonesia sendiri, keyakinan bahwa kaum kolonial memainkan peran penting dalam menopang sistem kapitalis bukan merupakan bagian asli pandangan marxis. Tradisi yang diusung kaum sosialis revolusioner Eropa tidak hanya cenderung mengabaikan masalah umum penjajahan tapi juga lebih jauh lagi menyangkal bahwa kaum komunis mengambil peran di wilayah terbelakang di seluruh dunia.
            Dengan demikian persoalan tanah jajahan tidak begitu penting dalam pemikiran Marxis. Hal itu berlangsung sampai beberapa tahun setelah meninggalnya Karl Marx, para pengikut Marx mulai mengintepretasikan ulang sistem yang telah ia letakkan guna memberikan peran lebih penting bagi negara-negara timur. Penafsiran ulang itu perlu dilakukan karena kemakmuran masyarakat negara-negara kapitalis yang belum pernah terjadi sebelumnya mereka nikmati pada peralihan abad. Marx menggambarkan masa depan Eropa akan mengalami krisis ekonomi yang mendalam dan meningkatkan kesengsaraan kaum proletar. Tetapi dalam kenyataannya negara-negara kapitalis menjadi lebih makmur dari sebelumnya, dan bahkan yang lebih mengejutkan bagi kaum revolusioner posisi sosial ekonomi kelas buruh meningkat tajam. Dengan demikian jelas dalil Marx dalam hal ini keliru, sistem yang telah diletakkannya diabaikan atau ditafsirkan ulang guna menjelaskan perkembangan baru.6
            Ini pula yang kelak akan dilakukan oleh tokoh-tokoh komunisme yang cenderung bisa dilihat sebagai pengkritis dan pemberharu marxisme Indonesia seperti Tan Malaka dan Aidit. Meskipun untuk pertama kalinya organisasi komunis formal di Indonesia tidak pernah ada sampai didirikannya Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) di bawah kepemimpinan Sneevliet pada tahun 1914, walau sesungguhnya masyarakat Indonesia sejak berabad-abad sebelumnya telah memiliki berbagai aspek yang dipandang sebagai sifat-sifat yang komunistik. Termasuk dalam hal ini adalah penyelenggaraan gotong royong oleh para penduduk di wilayah-wilayah pedesaan.
Dalam gotong royong ini setiap penduduk bertanggung jawab dalam pemeliharaan desa-desa mereka agar tetap pada kondisi yang wajar; struktur social dalam masyarakat Indonesia, dalam hal ini keberadaaan aliran-aliran dalam masyarakat, telah menghambat keberadaan kelas-kelas social di sepanjang garis-garis pemilah sosial yang horizontal; dan konsep kepemilikan tanah secara bersama (communal landholding) yang sesungguhnya telah ada sejak masa sebelum lahirnya kekuasaan feodal maupun kekuasaan kapitalistik ternyata dapat bertahan dan tidak tergoyahkan di berbagai wilayah pedesaan di Indonesia.7 Konsep-konsep tradisional ini hidup berdampingan dan memainkan peranan yang amat penting dalam langkah-langkah memodifikasi marxisme yang sesungguhnya berasal dari Eropa menjadi sebuah varian marxisme yang khas Indonesia yang memiliki berbagai ciri khas khusus pribumi.
            Kenyataannya memang terdapat sejumlah varian dalam marxisme di Asia yang membuatnya berbeda dengan versi aslinya dari Eropa. Perbedaan yang paling mendasar ialah dalam hal konsep. Hal penting lainnya adalah bahwa marxisme di Eropa memperlihatkan sikap ketidaksabaran terhadap tradisi, terhadap sifat-sifat khas sebuah kebudayaan, sikap-sikap akomodatif terhadap alam dan keberagaman dan sebagainya.
            Marxisme Asia berpandangan bahwa masyarakat industri adalah masyarakat yang penuh pengistimewaan dan bahwa dunia politik akan sangat menguasai kehidupan perekonomian. Bagi kaum marxis di Asia, masa depan dipahami dalam pengertian wilayah pedesaan yang berhasil direvitalisasi dan ditransformasikan dengan cara menyerap ke dalam dirinya segala hal yang positif dalam penemuan-penemuan terbaru di bidang teknologi, namun pada saat yang sama juga dilakukan pengendalian secara ketat terhadap cakupan dan sifat-sifatnya agar ia dapat dipergunakan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang bersifat egalitarian, partisipatoris dan pembebasan.8 Hal ini kemudian akan membawa pengaruh bagi pandangan marxisme di Indonesia. Belakangan ketika PKI berada di bawah kepemimpinan Aidit, masyarakat petani ini menjadi sasaran utama kegiatan partai. Dalam permasalahan ini Aidit berpendapat bahwa pembangunan sebuah basis massa bagi partai sebagai sesuatu hal yang paling penting.

Gagasan Besar Aidit

             Bagi Aidit sendiri marxisme di Indonesia mempunyai tujuan “…menghilangkan sisa-sisa feodalisme, membangun sebuah revolusi agraria yang anti feudal, melakukan penyitaan atas tanah milik para tuan tanah dan membagikannya secara gratis kepada para petani, terutama bagi para petani yang tak memiliki tanah dan miskin, dan akan menjadi milik mereka sendiri… Ini adalah landasan di mana akan diciptakan aliansi anatara kaum buruh dan petani tersebut sebagai basis bagi sebuah front nasional bersatu yang kuat…”9 Aidit menekankan bahwa sebenarnya rakyat tidak menginginkan teori-teori marxisme-leninisme. Sebaliknya mereka justru menginginkan perbaikan-perbaikan dalam banyak hal dalam kehidupan mereka.
            Landasan yang dijadikan pijakan oleh berbagai teoritisasi Aidit tentang masalah land reform ini adalah anggapannya bahwa meskipun telah berhasil memiliki kedaulatan sendiri, Indonesia ini pada dasarnya masih berstatus setangah terjajah dan setengah feodal. Persoalan status Indinesia yang masih semi feudal ini berkaitan sangat erta dengan konsep revolusi yang belum selesai yang telah menjadi persoalan yang menyelimuti Indonesia selama masa pemerintahan demokrasi parlementer dan yang dengan alasan-alasan yang cukup dapat dikatakan masih tetap berlanjut sampai pada saat itu. Sebagaimana dikatakan oleh Aidit.
            Indonesia adalah sebuah bangsa yang dikendalikan oleh baik sistem kapitalimsme maupun sistem feodalisme, meskipun tentu saja feodalisme yang murni 100% sudah tak ada lagi di sini. Akan tetapi sisa-sisa feodalisme yang terpenting dan palng serius masih ada di Indonesia sampai dengan saat ini. Hal ini dapat kita buktikan dengan berbagai fakta: pertama, masih tetap berlangsungnya hak-hak monopoli pada tuan-tuan tanah besar atas tuan-tuan tanah mereka yang dikerjakan oleh para petani yang merupakan sebagian terbesar orang yang tidak mungkin dapat memiliki tanah karenanya terpaksa harus menyewa tanah dari para tuan tanah dengan berbagai macam persyaratan: kedua, adanya sistem pembayaran sewa tanah dalam bentuk hasil-hasil panenan kepada para tuan tanah, di mana akibat-akibatnya menimbulkan sejumlah besar daripada sebagian besar kaum petani yang harus hidup dalam kemiskinan: ketiga, adanya sistem sewa tanah dalam bentuk melakukan pekerjaan pada tanah-tanah milik para tuan tanah yang telah menempatkan sebagian terbesar daripada kaum petani ada kedudukan seperti para budak. Terakhir, adanya penumpukan hutang yang demikian membebani sebagian besar kaum petani dan telah menempatkan mereka sebagai para budak milik para tuan tanah.10
 Kesimpulan
            Aidit memunculkan diri sebagai seseorang yang meskipun masih tetap mempertahankan dasar-dasar ideologi partainya yang sebenarnya, namun ia demikian menyadari situasi politik di dalam negeri. Baginya, keharusan untuk melakukan kompromi adalah bukan suatu permasalahan yang serius. Ia bahkan lebih melihatnya sebagai hanya  sebuah penyesuaian ideologi marxisme-leninisme dengan situasi di Indonesia.
….menerapkan prinsip-prinsip marxisme leninsme dalam keadaan yang nyata di negara kita, atau dengan kata lain melakukan Indonesianisasi terhadap marxisme leninsme, dan dengan berpijak pada landasan tersebut akan ditentukan secara kreatif bentuk kebijakan dan taktik perjuangan dan bentuk organisasi partai kita…11
            Catatan Akhir
1 Mahasiswa Jurusan Sejarah angkatan 2009
2 Mortimer, Rex, Indonesian Communism Under Sukarno: Ideologi dan Politik 1959-1965 (Pustaka Pelajar: Yogyakarta 2011), hlm ix
3 Aidit, Murad, Aidit Sang Legenda (Pata Rei: Jakarta 2006), hlm 4
4 Leclerc, Jaques, Mencari Kiri (Marjin Kiri: Jakarta 2011), hlm 107
5 Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 1999), hlm 5
6 McVey, Ruth, Kemunculan Komunisme Indonesia (Komunitas Bambu: Depok 2010), hlm 2
7 Edman, Peter, Komunisme Ala Aidit: Kisah PKI di Bawah Kepemimpinan D.N. Aidit 1950-1965 (Center for Information Analysy: Jakarta 2007), hlm 13
8 Lihat Edman, Ibid., hlm 15
9 Lihat Aidit, “The Road..’, hal. 164.
10 Lihat Aidit, Hari Depan Gerakan Tani Indonesia dalam Pilihan Tulisan Aidit Jilid 1, hlm 157
11 Lihat Aidit, Berani, Berani, Berani, Sekali Lagi Berani, hlm 85

Daftar Pustaka

Mortimer, Rex. 2011. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideologi dan Politik 1959-1965. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Leclerc, Jaques. 2011. Mencari Kiri: Kaum Revolusioner Indonesia dan Revolusi Mereka. Jakarta: Marjin Kiri
Edman, Peter. 2007. Komunisme Ala Aidit: Kisah PKI di Bawah Kepemimpinan D.N. Aidit 1950-1965. Jakarta: Center for Information Analys
Aidit, D.N. 1959. Pilihan Tulisan Aidit Jilid I. Jakarta: Jajasan Pembaruan
Aidit, D.N. 1959. Pilihan Tulisan Aidit Jilid II. Jakarta: Jajasan Pembaruan
Aidit, D.N. 1959. Pilihan Tulisan Aidit Jilid III. Jakarta: Jajasan Pembaruan


Unknown

Halo Pembaca, bila tulisan ini berkenan bagi Anda silahkan disebar dan berikan komentar ya, terimakasih

1 komentar:

  1. Menurut saya isi tulisan ini sangat menyemangati untuk berpikir kreatif, daripada otak nganggur kosong yang cuma memikirkan bagaimana dan apa besok masih bisa membeli makanan.

    BalasHapus