Belajarlah Pada Mas Marco Kartodikromo*

22.42 0 Comments

Membaca keadaan dengan menulis

Ada sebuah idiom yang menyatakan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah penindasan. Jikalau kita bertitik tolak pada peristiwa hari ini. Dimana cita-cita globalisasi merasuk pada proses liberalisasi yang tengah terjadi di pelbagai sektor kehidupan. Khususnya dunia pendidikan yang tengah kita geluti sebagai kaum intelegensia.

Penindasan yang pernah dan tengah terjadi semua terekam dalam sebuah goresan pena. Begitupun ketika Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara-bangsa pada gejolak Revolusi Agustus lewat teks proklamasi. Tuhan pun mengajari manusia akan sejarah lewat sebuah manifestasi berbentuk kitab.

Berjuta buku telah dibuat untuk merefleksikan apa yang pernah terjadi dalam sejarah. Ilmuwan, sastrawan, dan wartawan sempat merekam itu semua. Kemudian sejumlah peristiwa dan tokoh terangkum dalam rintihan tinta yang terbaring kaku dilembaran kertas. Tapi sejarah tidak mengajarkan kita hanya untuk menghafal apa dan siapa.

Memodifikasi apa yang pernah disebut oleh Dom Helder Camara. Ketika aku memberi makan orang lapar, aku disebut orang suci. Ketika aku bertanya dan menuliskan mengapa orang itu lapar, aku disebut komunis. Inilah yang dulu dan sekarang tengah terjadi.

Mas Marco salah satu tokoh pergerakan yang dalam tulisannya berbicara jujur mengenai penghisapan imperialisme Belanda. “Saya berani bilang, selama kalian, rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kalian akan terus diinjak-injak dan hanya menjadi seperempat manusia!”  Inilah kata-kata yang pernah terlontar dari mulut dan tangan seorang pria yang mulai terjun di dunia pergerakan lewat jalur tulis-menulis.

Mas marco melihat betapa kebijakan imperliasme Belanda hanya menguntungkan kaum kapitalis semata. Kebijakan Cultur Stelseel dan sistem sewa tanah sangat menyengsarakan rakyat khususnya kaum pribumi yang tergolong kelas proletar. Dan dengan inilah Mas Marco menempuh jalur radikal dalam proses penyadaran akan ketertindasan yang tengah terjadi pada zamannya.

Berani karena benar takut karena salah adalah motto dari surat kabar Doenia Bergerak. Surat kabar yang didirakan oleh Mas Marco yang digunakan sebagai corong perjuangan melawan imperialisme-kolonialisme. Tulisan-tulisannya yang masuk pun dibuat tanpa ada yang dipoles. Hal ini dilakukan agar pembaca dapat mengerti akan esensi dari tulisannya. Dan hal inilah yang nantinya akan membawa Mas Marco hilir mudik masuk tahanan. Yang kemudian membawanya pada proses pengasingan.

Sekali lagi, sejarah hanyalah milik para pemenang. Inilah yang tidak pernah dirasakan Mas Marco sebagai tokoh pergerakan yang asik dengan dunianya sebagai jurnalis. Namanya kalah populer dibanding gurunya, Mas Tirto Adisurjo. Yang mengajarinya tentang organisasi dan dunia jurnalistik. Dan akhirnya sejarah memunculkan nama-nama seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Tapi dari sederetan nama mereka tidak hanya berjuang dengan mengadu fisik di medan perang. Melainkan mengadu gagasan dan pikiran dengan menorehkan tindakan di dunia pena.

Mas marco bukanlah seorang intelektual yang lahir dari pendidikan tinggi ala barat. Dia hanyalah seorang pemuda kelahiran cepu yang hanya sempat bersekolah di sekolah Ongko Loro, Bojonegoro. Lain halnya ketika para pelajar pribumi yang menikmati sekolah kelas satu dan pendidikan tinggi. Yang kemudian membentuk Perhimpunan Indonesia. Dan menerbitkan surat kabar antara lain bernama Indonesia Merdeka dan Fikiran Rakjat.

Lain halnya dengan Mas Marco yang mampu berbicara jujur akan kondisi objektif pada zamannya. Hari ini Kebijakan pendidikan yang hanya menguntungkan pemodal atau bisa disebut kapitalis. Belum mampu dijawab secara praksis oleh kaum intelektual.

Duduk dan mengangguk menjadi budaya yang sering terlihat dalam ruang pelajaran. Berargumen dan menulis hanya menjadi sebuah pengaminan dalam sistem pembelajaran yang berbasis Studi Oriented. Mengutip Tan Malaka. Selama kaum intelektual hanya melihat kemiskinan dan pembodohan hanya dari ruang kelas, niscaya takan berbuah apa-apa. Meleburlah dalam politik revolusioner yang aktif bersama rakyat.

*Disampaikan dalam Diskusi BEMJ Sejarah 2011

Unknown

Halo Pembaca, bila tulisan ini berkenan bagi Anda silahkan disebar dan berikan komentar ya, terimakasih

0 komentar: