Jadilah Leiden is Lijden*

11.32 0 Comments



“Barangsiapa menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri sendiri” (Tan Malaka)

Memimpin adalah menderita, begitulah arti dari leiden is lijden. Sebuah pepatah kuno Belanda yang dikutip oleh Kasman Singodimedjo dalam mewakili situasi zamannya. Dimana dalam perjuangan kemerdekaan, para pemimpin tidak hanya dihadapkan pada situasi sulit dalam politik. Melainkan juga kondisi ekonomi dan sosialnya.

Filosofi leiden is lijden menjadi suatu keharusan jalan pengabdian, bagi mereka yang mengerti bahwa kebahagiaan rakyat yang dipimpin lebih utama ketimbang pemimpinnya. Kerelaan pemimpin untuk hidup menderita demi rakyat inilah yang pernah dilalui oleh mereka. Founding father yang sudah melahirkan tanah merah dari darah jutaan nyawa buruh akibat kerja paksa. Dimana tanah itu hari ini kita tinggali. Dari sungai atas keringat petani yang mati kelaparan akibat cultursteelsel. Dimana sungai tersebut hari ini menjaga kita dari rasa haus.

Kerelaan seperti itu tidak pernah terbayar. Meski pernah ada tawaran bekerja sebagai asisten dosen di bekas kampusnya Technische Hogeschool  (THS) dengan tawaran kemapanan. Soekarno menolaknya. Dia lebih memilih untuk beragitasi dari mimbar satu ke mimbar yang lainnya. Memberantas buta huruf dari desa satu ke desa lainnya.

Mendahulukan menuliskan penderitaan rakyat ketimbang tugas-tugas kuliahnya. Hingga penjara menjadi tempat dimana keyakinan untuk memerdekakan bangsanya dari penjajahan semakin mengeras. Dia memilih mengemban apa yang dia sebut sebagai “Djalan Rakjat”.

Penderitaanlah yang menjadikan sejarah Indonesia ini ada. Mereka, pemimpin Indonesia tahun 1926 diasingkan di Boven Digul, menghadapi resiko kelaparan, wabah penyakit, dan binatang buas. Ratusan orang mati di sana untuk kemerdekaan.  Begitu pula dengan pemimpin generasi 1998, setiap hari mesti berjibaku dengan aspal membentuk parlemen jalanan. Hingga melahirkan situasi yang hari ini kita rasakan.

 ***

Zaman sudah kepungkur, begitu kata Emha Ainun Najib. Kini bukanlah penderitaan pemimpin yang ada melainkan penderitaan rakyat dimana-mana. Bukan pemimpin yang rela untuk menderita demi kesejahteraan rakyatnya. Tapi sebaliknya.

Cukup rakyat saja yang memanggul penderitaan. Biarkan rakyat Ujung Kulon, Pandeglang, tetap hidup di zaman seperti yang pernah ditulis dalam Max Havelar karya Multatuli, kelaparan karena tidak memiliki bahan makanan. Bukan karena tidak memiliki tanah yang subur, bukan pula lautannya tidak menghasilkan ikan untuk dimakan. Tetapi di Ujung Kulon, negara lebih memanusiakan badak dan membadakan manusia.

Ini sebuah fenomena yang beralaskan kenyataan. Masih di tempat yang sama. Dimana pemimpinnya hidup bergelimang harta, berlebihan sumber makanan, menapak jalan aspal pun dengan alas kaki buatan benua Eropa. Berteduhpun di tempat yang berbeda-beda, siang di istana malam di bungalau. Sedangkan rakyatnya masih menantang maut karena meniti jembatan yang hanya terbentang seutas kawat besi.

Inilah, banyak orang jelata tak kuasa. Sebaliknya, banyak orang berkuasa masih bermental jelata. Orang berkuasa masih bernalar untuk terus dilayani. Dan orang yang seharusnya dilayani terus-terusan dibohongi.

***

Jadilah leiden is lijden, pemimpin yang memperjuangkan kepentingan rakyat meski harus merelakan kepentingan pribadinya. Sebab, pemimpin diberikan kepercayaan untuk memegang amanat karena dirinya telah dilihat dan dinilai sebagai sosok yang kompeten menghadapi persoalan yang akan dihadapi oleh organisasi atau bahkan negara. 

Pemimpin itu terlahir, bukan karena dia dilahirkan dari kalangan kerajaan ataupun golongan militer. Penderitaan justru menjadikan kita semakin peka terhadap lingkungan dan terdorong bergerak untuk berjuang demi kemaslahatan rakyat atau orang yang lebih banyak. Memimpin berarti mengambil pilihan untuk merelakan kemerdekaan pribadi demi kemerdekaan yang sejati.

Terkesan imajiner bahkan absurd. Tapi pada kenyataannya Soekarno, Tan Malaka dan generasi-genarasi setelahnya mampu membuktikannya. Lalu bagaimana dengan kita? Padahal, Muhammad pernah bilang bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama dan setiap dari kita adalah pemimpin.

Kita harus meninggalkan paradigma bahwa kepemimpinan itu suatu wacana yang teknis. Sebab organisasi sosial bukanlah perusahaan rente pencari keuntungan. Kita membutuhkan pemimpin, bukan seorang manajer yang tidak tahu arti kolektif kolegial.

Paling tidak ada lima “obat hati” yang harus kita jalani sedari dini. Pertama, jangan pernah berhenti untuk membaca. Kedua, menulislah, tidak ada pemimpin yang tidak pernah menulis. Ketiga, berkumpulah dengan orang satu pemikiran dan berdiskusilah dengan mereka yang terkadang berbeda pemikiran. Keempat, belajarlah menemukan penderitaan. Terakhir, temuilah masyarakat. Dari dan bersama merekalah kita menemukan arti kita dan makna seorang pemimpin.

Jangan pernah berpikir bahwa kunci untuk melakukan perubahan bermula dari diri sendiri. Hal itu adalah cara berpikir yang picik, dimana hanya akan menghasilkan makhluk-makhluk: individualitis, pragmatis dan oportunis. Jika begitu, jangan heran bila leiden is lijden, pemimpin yang rela menderita tidak akan terlahir kembali.

Pramoedya selalu mengingatkan kita, “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”.

Sebuah Pengantar Dalam (Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Jurusan) PKMJ Sejarah UNJ 2014, Cipari, Bogor

Unknown

Halo Pembaca, bila tulisan ini berkenan bagi Anda silahkan disebar dan berikan komentar ya, terimakasih

0 komentar: