The Upstairs Bertemu Ivan Illich
Enam hari
berseragam
Rambutku telah mereka hancurkan
Menyita ragam cerita
Jelas sekali ku telah diredam
Kuberdansa resah
Diorbitkan rasa
Ke hampa udara
Tak terbersit hati
Untuk berhenti
Dipandang sebelah mata
Aku bukan urutan terdepan
Namun esok akhir pekan
Waktunya tuk melepaskan beban
Kuberdansa resah
Diorbitkan rasa
Ke hampa udara
Tak terbersit hati
Untuk berhenti
Tak terbersit hati
Untuk segera
Berhenti
Rambutku telah mereka hancurkan
Menyita ragam cerita
Jelas sekali ku telah diredam
Kuberdansa resah
Diorbitkan rasa
Ke hampa udara
Tak terbersit hati
Untuk berhenti
Dipandang sebelah mata
Aku bukan urutan terdepan
Namun esok akhir pekan
Waktunya tuk melepaskan beban
Kuberdansa resah
Diorbitkan rasa
Ke hampa udara
Tak terbersit hati
Untuk berhenti
Tak terbersit hati
Untuk segera
Berhenti
(The Upstairs-Dansa Akhir Pekan)
Lihat saja
dalam waktu tertentu pada akhir pekan. Pusat keramaian di Jakarta seperti
Senayan, menjadi pilihan para siswa sekolah menengah, yang berasal dari kelas
menengah untuk sekadar membunuh waktu. Pentas musik, sampai bazar pakaian,
menjadi rutinitas wajib yang mesti dilakoni mereka.
Bagi The
Upstairs, melalui lirik lagu di atas. Hal itu merupakan representasi akumulasi
perasaan resah para siswa dalam melakoni rutinitas bersekolah. Mereka (siswa
kelas menengah) mencari bentuk ruang lain daripada yang ada di sekolahnya.
Di Jakarta
sendiri, ruang itu berupa arena hiburan sesuai dengan hobi mereka ataupun
bentukan dari kebutuhan kapitalistik. Hal itu mewujud dalam bazar pakaian, yang
cenderung menjadikan paradigma bahwa kebutuhan primer sesungguhnya adalah trend
berpakaian.
Kondisi ini juga didukung oleh idola-idola mereka yang sering
tampil dalam pentas musik tersebut. Tak jarang sebagian dari mereka di malam
harinya, mengisi pusat hiburan malam.
Sekali lagi,
The Upstairs melihat ini sebagai sebuah fenomena umum yang diciptakan oleh
kondisi sekolah. Lirik lagu, Dansa Akhir
Pekan ialah wujud dari sikap yang diambil oleh siswa kelas menengah
sebagai bentuk kebebasan versi mereka. Ekspresi kebebasan siswa justru
tergambar pada akhir pekan, bukan pada lembaga sekolah.
Fenomena Lembaga Sekolah
Apa yang coba
digambarkan oleh grup band asal Jakarta itu seolah memaksa kita untuk kembali
melihat arti dan keberadaan sekolah itu sendiri. Jimi Multhazam, si empunya
lagu, melihat sekolah sebagai bentuk peredam kebebasan siswa. Siswa dipaksa
mengikuti aturan dan nilai bentukan
sekolah yang cenderung positivistik, antara baik dan buruk. Bertolak belakang dari
aturan yang dimiliki oleh siswa, yang biasanya berasal dari kondisi sosial yang
empirik. Hal itu tergambar dari fungsi laten sekolah yang sering dianggap
sebagai tempat penitipan anak, indoktrinisasi dan tempat belajar satu-satunya.
Sekolah
adalah lembaga yang dibangun atas dasar anggapan bahwa kegiatan belajar adalah
hasil dari kegiatan mengajar. Kebanyakan orang, menerima hal ini sebagai bentuk
kewajaran. Padahal, sebagian besar yang diketahui siswa justru di luar sekolah.
Ivan Illich
pernah menyatakan bahwa semua orang belajar bagaimana bisa hidup justru di luar
sekolah. Kita belajar berbicara, berfikir, merasa, mencinta, bermain,
berpolitik, dan bekerja tanpa campur tangan guru. Sebaliknya, kejadian tawuran
siswa yang menimpa antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta. Di mana sekolah
mengajari mencegah konflik, justru tidak bisa menjamin bahwa tawuran tersebut
tidak terjadi. Syahdan, siswa nyatanya dipaksa mesti belajar asosiasi,
interaksi sosial, dan konflik atas pengalaman empiriknya.
Dalam lagu tersebut,
The Upstairs juga menyinggung sekolah sebagai ruang yang menyita seluruh waktu
dan tenaga guru maupun siswa. Yang menurut Ivan Illich, akan memposisikan guru
sekadar sebagai pengawas, penceramah, dan ahli terapi. Dengan peran-peran yang
disebutkan ini, guru mendasarkan otoritasnya. Guru merasa diri berkuasa atas
siswa.
Di bawah
pengawasan guru yang penuh kuasa, beberapa tatanan nilai dilebur menjadi satu.
Ini tergambar seperti yang disampaikan The Upstairs dalam liriknya. Seorang
siswa laki-laki yang berambut gondrong
adalah orang yang bertindak di luar aturan yang berlaku. Kriminal, secara moral
rusak, dan rendah kepribadiannya. Maka dari itu bentuk pelarangan rambut gondrong digambarkan The Upstairs
sebagai represi atas penyitaan beragam cerita.
Kehadiran
penuh dalam kelas juga telah mengasingkan siswa dari dunia kebudayaannya
sehari-hari. Dan menenggelamkan mereka ke dalam lingkungan sekolah yang
cenderung primitif, magis, dan sangat serius. Alhasil, siswa tidak dapat
memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada diri dan masyarakat di sekitarnya.
Yang kalau diungkapkan oleh The Upstairs dalam bait liriknya, Kuberdansa
resah Diorbitkan rasa Ke hampa udara.
.png)

0 komentar: